Surabaya (prapanca.id) – Komitmen penguatan kapasitas kesehatan global terus diperluas oleh Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) melalui kegiatan pengabdian masyarakat lintas negara. Bersama RSUD Dr Soetomo, tim Departemen Anestesiologi dan Reanimasi menggelar pelatihan Basic Life Support (BLS) bagi warga negara Indonesia (WNI) di Maroko.
Kegiatan yang berlangsung di KBRI Rabat pada Selasa (21/4/2026) ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat medis yang dapat terjadi kapan saja.
Dukungan Diplomatik dan Apresiasi KBRI
Pelatihan tersebut turut dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Maroko, Yuyu Sutisna, yang memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Ia menilai kegiatan tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat perlindungan WNI di luar negeri melalui peningkatan literasi kesehatan.
Menurut Yuyu, keterlibatan tenaga medis Indonesia yang baru mengikuti forum internasional turut memperkaya materi pelatihan dengan standar praktik terkini di bidang anestesiologi dan kegawatdaruratan.
Respons Cepat Jadi Penentu Keselamatan
Ketua tim pelatihan, Anna Surgean Veterini, menekankan bahwa keterampilan dasar penyelamatan nyawa tidak hanya penting bagi tenaga medis, tetapi juga masyarakat umum.
Ia menjelaskan bahwa situasi darurat seperti serangan jantung, tersedak, hingga kecelakaan listrik dapat terjadi secara tiba-tiba. Dalam kondisi tersebut, respons awal dari orang di sekitar korban menjadi faktor krusial dalam menentukan peluang keselamatan.
Pendekatan ini menegaskan pentingnya edukasi publik dalam bidang kegawatdaruratan sebagai bagian dari sistem kesehatan preventif.
Materi Praktis dan Simulasi Lapangan
Pelatihan BLS dirancang dengan pendekatan aplikatif, menggabungkan teori dan praktik langsung. Dua instruktur utama, Dyah Saraswati dan Nenden Suliadiana Fajarini, memandu peserta dalam memahami berbagai teknik penyelamatan dasar.
Materi yang diberikan meliputi resusitasi jantung paru (RJP), penanganan tersedak, pertolongan pertama pada cedera listrik, hingga penanganan kondisi ekstrem seperti heat stroke dan hipotermia. Peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan Automated External Defibrillator (AED), alat yang kini semakin banyak tersedia di ruang publik global.
Antusiasme peserta terlihat tinggi, terutama saat sesi simulasi yang memungkinkan mereka mempraktikkan langsung teknik penyelamatan dengan pendampingan tenaga ahli.
Tonggak Baru Pengabdian Global UNAIR
Kegiatan ini menjadi salah satu pelatihan BLS pertama yang secara khusus menyasar komunitas diaspora Indonesia di Maroko. Kolaborasi antara institusi pendidikan, rumah sakit, dan perwakilan diplomatik menjadi model sinergi dalam penguatan kapasitas kesehatan lintas negara.
Dr. Anna juga mengapresiasi peran aktif KBRI Rabat dalam memfasilitasi kegiatan, mulai dari koordinasi hingga pelaksanaan teknis di lapangan.
Bangun Kesadaran dan Solidaritas Kesehatan
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga didorong untuk memiliki kepedulian sosial dalam situasi darurat. Diaspora diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam memberikan pertolongan pertama sebelum bantuan medis profesional tiba.
Langkah ini sekaligus mempertegas kontribusi tenaga medis Indonesia dalam memperluas dampak kesehatan global, khususnya dalam aspek edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Dengan pendekatan berbasis kolaborasi dan transfer pengetahuan, FK UNAIR menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga pada pengabdian yang menjangkau komunitas internasional. (tas)

