Surabaya (prapanca.id) – Potensi kemunculan fenomena El Nino pada pertengahan tahun 2026 mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat peluang El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026. Menanggapi kondisi tersebut, pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Hijrah Saputra, menekankan pentingnya langkah mitigasi sejak dini.
Prediksi serupa juga disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memperkirakan kemungkinan terjadinya El Nino dengan intensitas tinggi. Dalam penjelasannya, Dr Hijrah Saputra menyebut bahwa istilah “El Nino ekstrem” lebih merupakan istilah populer untuk menggambarkan tingkat keparahan fenomena yang melebihi kondisi normal.
Ia mengilustrasikan perbedaan intensitas El Nino seperti kondisi suhu tubuh manusia, di mana peningkatan yang signifikan menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dan berpotensi menimbulkan dampak luas.
Mekanisme Terjadinya El Nino
Secara ilmiah, El Nino terjadi akibat melemahnya angin pasat di Samudra Pasifik. Kondisi ini menyebabkan pergeseran massa air laut hangat dari wilayah Indonesia menuju Pasifik bagian tengah dan timur. Akibatnya, suhu permukaan laut di wilayah tersebut meningkat secara signifikan.
Peningkatan suhu ini berdampak pada perubahan pola pembentukan awan hujan. Wilayah Indonesia yang biasanya menjadi pusat pembentukan awan justru mengalami penurunan curah hujan. Dampaknya, musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering.
Dr Hijrah juga menjelaskan bahwa kekuatan El Nino diukur menggunakan Oceanic Nino Index (ONI), yang menunjukkan anomali suhu permukaan laut. Nilai tertentu dalam indeks tersebut menjadi indikator apakah fenomena El Nino tergolong lemah, sedang, kuat, atau sangat kuat.
Dampak Luas terhadap Lingkungan dan Pangan
Fenomena El Nino memiliki konsekuensi signifikan bagi Indonesia, terutama dalam aspek lingkungan dan ketahanan pangan. Penurunan curah hujan dapat memicu kekeringan berkepanjangan, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta menyebabkan keterbatasan pasokan air bersih.
Selain itu, sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak. Penurunan produksi pangan berpotensi terjadi akibat terganggunya pola tanam dan berkurangnya ketersediaan air. Dalam skala global, fenomena ini juga berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon akibat kebakaran hutan.
Strategi Mitigasi yang Perlu Diperkuat
Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, Dr Hijrah Saputra menekankan pentingnya langkah mitigasi yang terencana dan terintegrasi. Ia mengidentifikasi beberapa strategi utama yang perlu segera dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.
Pertama, optimalisasi pengelolaan cadangan air, termasuk pengisian bendungan dan waduk sebagai langkah antisipasi kekeringan. Kedua, penerapan teknologi modifikasi cuaca di wilayah yang rentan mengalami kekeringan ekstrem.
Ketiga, penyesuaian kalender tanam agar selaras dengan perubahan iklim, sehingga kelembaban tanah tetap terjaga. Keempat, diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas tertentu yang rentan terhadap perubahan cuaca.
Menurutnya, upaya mitigasi harus dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi fenomena iklim yang semakin tidak menentu.
Pentingnya Kesiapsiagaan Dini
Peningkatan intensitas El Nino menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan realitas yang harus dihadapi saat ini. Oleh karena itu, kesiapan dalam menghadapi risiko menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Dengan perencanaan yang matang dan respons yang cepat, dampak negatif El Nino terhadap sektor lingkungan, air, dan pangan dapat ditekan. Upaya mitigasi yang dilakukan sejak dini diharapkan mampu menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim global. (tas)

