Surabaya (prapanca.id) – Ikan gabus kini semakin mendapat perhatian sebagai salah satu pangan lokal bernutrisi tinggi yang berpotensi menjadi superfood unggulan Indonesia. Kandungan albumin, protein, hingga senyawa bioaktif di dalamnya dinilai mampu mendukung kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Eka Saputra, menjelaskan bahwa ikan gabus memiliki kandungan gizi yang lengkap dan bernilai tinggi dibandingkan banyak sumber pangan lainnya.
Menurut Eka, konsep superfood merujuk pada bahan pangan yang mengandung nutrisi unggul seperti protein, vitamin, mineral, antioksidan, hingga senyawa bioaktif dalam kadar tinggi. Dalam konteks tersebut, ikan gabus dinilai memenuhi banyak kriteria pangan fungsional modern.
Ia menyebut ikan, khususnya ikan gabus, memiliki keunggulan dari sisi kandungan protein dan asam amino esensial yang penting untuk mendukung pertumbuhan serta perbaikan jaringan tubuh.
Salah satu kandungan utama yang menjadi sorotan adalah albumin. Protein plasma darah tersebut diketahui memiliki berbagai fungsi penting bagi tubuh manusia, mulai dari membantu proses distribusi hormon dan enzim hingga mempercepat pemulihan luka pascaoperasi.
Kandungan albumin pada ikan gabus juga kerap dimanfaatkan dalam berbagai produk kesehatan. Saat ini, pemanfaatannya tidak hanya melalui konsumsi ikan segar, tetapi juga dikembangkan menjadi produk ekstraksi seperti kapsul, sirup, hingga kebutuhan medis tertentu.
Eka menjelaskan bahwa albumin berperan sebagai unsur pembangun sel tubuh yang rusak dan mendukung proses pertumbuhan, terutama pada anak-anak dan balita. Selain itu, ikan gabus juga mengandung peptida bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proses pengolahan pangan tetap memengaruhi struktur nutrisi, termasuk albumin yang bersifat sensitif terhadap suhu tinggi.
Karena itu, pengolahan produk ikan harus dilakukan secara tepat agar kandungan gizi tetap optimal. Namun di sisi lain, pengolahan juga menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya konsumsi masyarakat, menjaga mutu produk, serta memperpanjang masa simpan pangan berbasis ikan.
Di tengah meningkatnya konsumsi makanan cepat saji dan junk food, pengembangan produk olahan berbasis ikan gabus dinilai menjadi peluang strategis menghadirkan alternatif pangan sehat yang lebih praktis dan menarik.
Menurut Eka, ikan gabus memiliki fleksibilitas tinggi untuk diolah menjadi berbagai produk modern yang lebih mudah diterima masyarakat, khususnya anak-anak. Beberapa di antaranya seperti nugget ikan, bakso ikan, kaki naga, dimsum, hingga otak-otak.
Diversifikasi produk tersebut dinilai penting untuk meningkatkan minat konsumsi ikan di Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk perubahan pola makan masyarakat urban.
Selain mendukung pemenuhan gizi keluarga, pengembangan produk berbasis ikan gabus juga dinilai berpotensi mendukung berbagai program makanan bergizi yang saat ini menjadi perhatian pemerintah.
Namun, pengembangan industri pangan berbasis ikan gabus tetap memerlukan perhatian terhadap kualitas bahan baku, sistem distribusi, dan pengendalian mutu agar kandungan gizinya tetap terjaga hingga sampai ke konsumen.
Eka juga menyoroti pentingnya inovasi pangan berbasis ikan untuk mendukung kesehatan anak. Menurutnya, pendekatan kreatif dalam penyajian menu menjadi salah satu faktor penting agar anak lebih tertarik mengonsumsi makanan bergizi.
Ia menilai orang tua perlu menyesuaikan bentuk dan variasi makanan dengan preferensi anak agar pola makan sehat dapat terbentuk sejak dini.
Dengan kandungan nutrisi yang tinggi serta peluang diversifikasi produk yang luas, ikan gabus dinilai memiliki prospek besar sebagai superfood lokal yang tidak hanya mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri pangan berbasis sumber daya perikanan nasional. (tas)

