Surabaya (prapanca.id) – Masalah kesehatan mental pada remaja menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan sebelum pandemi COVID-19 terjadi, para ahli kesehatan sudah mencatat adanya peningkatan gangguan mental pada anak muda, termasuk rasa putus asa hingga pikiran untuk bunuh diri.
Selama satu dekade sebelum pandemi, angka remaja yang mengalami tekanan mental disebut meningkat hingga 40 persen. Pandemi kemudian memperparah situasi akibat isolasi sosial, perubahan sistem sekolah, hingga berkurangnya interaksi dengan lingkungan sekitar.
Namun, kondisi mental remaja ternyata tidak hanya dipengaruhi pandemi. Sejumlah faktor lain juga ikut memicu meningkatnya kasus depresi dan gangguan psikologis pada anak muda.
Dilansir dari Parents, American Psychological Association (APA) menyebut media sosial, kekerasan massal, bencana alam, perubahan iklim, hingga polarisasi politik menjadi faktor yang ikut memengaruhi kesehatan mental generasi muda saat ini.
Selain itu, tekanan akademik dan perundungan juga dinilai menjadi penyebab yang semakin sering ditemukan. Cyberbullying atau perundungan di media sosial menjadi salah satu ancaman terbesar karena dapat terjadi kapan saja, bahkan setelah aktivitas sekolah selesai.
Depresi pada remaja tidak selalu terlihat jelas. Banyak orang tua menganggap perubahan perilaku anak hanya bagian dari fase pubertas atau sekadar suasana hati yang tidak stabil.
Padahal, ada sejumlah tanda yang perlu diwaspadai karena bisa menjadi gejala depresi yang lebih serius.
Menurut American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, beberapa gejala depresi pada remaja antara lain:
- Mudah sedih dan sering menangis
- Lebih mudah marah atau emosional
- Kehilangan minat pada aktivitas favorit
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Nafsu makan berubah drastis
- Berat badan menurun tanpa sebab jelas
- Tidur berlebihan atau justru insomnia
- Mudah lelah dan kehilangan energi
- Sulit fokus dan berkonsentrasi
- Prestasi sekolah menurun
- Merasa tidak berharga atau gagal
- Muncul pikiran tentang kematian atau bunuh diri
Selain perubahan emosi, sebagian remaja juga mengalami keluhan fisik seperti sakit kepala, nyeri perut, atau tubuh terasa tidak nyaman tanpa penyebab medis yang jelas.
Dalam beberapa kasus, remaja juga mulai mencoba alkohol, rokok, atau zat tertentu sebagai pelarian dari tekanan mental yang mereka rasakan.
Penggunaan media sosial yang berlebihan disebut menjadi salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan kesehatan mental remaja. Tekanan untuk terlihat sempurna, rasa takut tertinggal tren, hingga komentar negatif dapat memicu kecemasan berlebihan.
Di sisi lain, tuntutan akademik yang tinggi juga membuat banyak remaja mengalami stres berkepanjangan. Persaingan nilai, ekspektasi orang tua, hingga tekanan untuk sukses di usia muda menjadi beban psikologis tersendiri.
Kondisi tersebut bisa semakin berat jika remaja tidak memiliki ruang aman untuk bercerita atau mendapatkan dukungan emosional dari lingkungan sekitar.
Para ahli menilai dukungan keluarga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental remaja. Orang tua disarankan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan tidak langsung menganggapnya sebagai sikap manja atau drama remaja.
Mendengarkan tanpa menghakimi, memberi ruang untuk bercerita, serta membangun komunikasi yang sehat dapat membantu remaja merasa lebih aman dan didengar.
Selain keluarga, lingkungan sekolah dan pertemanan juga memiliki pengaruh besar. Guru, konselor, maupun sahabat dekat dapat menjadi support system yang membantu remaja menghadapi tekanan emosional.
Jika gejala depresi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau berlangsung dalam waktu lama, bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater perlu segera dipertimbangkan agar kondisi tidak semakin memburuk.
Kesehatan mental remaja bukan masalah sepele. Mengenali tanda-tandanya sejak dini bisa menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih serius di masa depan. (ant)

