Surabaya (prapanca.id) – Latar belakang pendidikan tidak selalu menentukan arah karier secara linier. Hal itu dibuktikan oleh Meilanny Dyah Kumala Putri, alumni Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, yang kini berkarier di industri hulu migas sebagai contract engineer di PT Pertamina EP.
Perempuan yang lulus S1 Fisika dari Universitas Airlangga pada 2016 itu melanjutkan pendidikan magister di Institut Teknologi Bandung dengan mengambil jurusan Teknik Pertambangan pada 2016–2018. Keputusan tersebut didorong ketertarikannya pada bidang yang lebih aplikatif dan berorientasi industri.
“Fisika membentuk pola pikir logis dan sistematis. Itu sangat membantu ketika saya harus menganalisis persoalan teknis di dunia kerja,” ujarnya.
Karier Meilanny di Pertamina dimulai sebagai intern pada 2018. Ia kemudian dipercaya mengemban tugas sebagai well-site engineer selama dua hingga tiga tahun. Dalam posisi tersebut, ia terlibat langsung dalam persiapan teknis pengeboran, koordinasi kebutuhan lapangan, hingga memastikan operasional berjalan sesuai standar keselamatan dan prosedur.
Pengalaman di lapangan memberinya pemahaman menyeluruh mengenai proses bisnis sektor hulu migas. Kini, ia menjalankan peran sebagai contract engineer yang bertanggung jawab menyiapkan serta mengelola kontrak pengadaan barang dan jasa untuk mendukung aktivitas pengeboran.
“Tanpa kontrak yang tepat, operasional tidak dapat berjalan optimal. Peran ini memang lebih banyak di balik layar, tetapi krusial,” jelasnya.
Menurut Meilanny, tantangan terbesar bukan hanya kompetisi masuk industri migas, melainkan proses adaptasi. Dengan latar belakang Fisika yang tidak sepenuhnya linier dengan perminyakan, ia dituntut belajar cepat dan membuktikan kapasitasnya.
Ia menilai fondasi keilmuan Fisika berperan besar dalam kemampuan problem solving, analisis data, serta ketahanan mental menghadapi tekanan kerja. “Latihan menyelesaikan persoalan kompleks saat kuliah membentuk daya tahan dan ketelitian,” tambahnya.
Sebagai bagian dari Pertamina EP, Meilanny merasa bangga dapat berkontribusi dalam upaya menjaga ketahanan energi nasional. Ia berpesan kepada mahasiswa agar tidak ragu menempuh jalur karier yang berbeda dari jurusan kuliah.
“Tidak linier bukan berarti tidak mampu. Dunia kerja luas, yang terpenting adalah kemauan belajar dan adaptasi,” tegasnya. (tas)

