Surabaya (prapanca.id) — Lulusan sastra kerap dipandang memiliki ruang karier terbatas di dunia akademik atau literasi. Namun, anggapan tersebut berhasil dipatahkan oleh Pramono Hari Susanto, alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini menduduki posisi strategis sebagai Executive Producer di Metro TV.
Perjalanan karier Pramono menjadi contoh nyata bahwa disiplin ilmu sastra memiliki relevansi kuat dalam industri media modern. Kemampuan memahami bahasa secara mendalam, termasuk aspek diksi, narasi, dan storytelling, menjadi bekal penting dalam dunia jurnalistik yang menuntut ketepatan sekaligus daya tarik informasi.
Menurut Pramono, latar belakang keilmuan di bidang budaya dan sastra justru memberikan keunggulan tersendiri dalam membangun komunikasi yang efektif di industri pers. Ia menilai bahwa jurnalisme tidak hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana cerita disusun agar mampu menyentuh audiens secara luas.
Kesuksesan yang diraih Pramono tidak datang secara instan. Sejak masa kuliah, ia telah menyusun arah karier secara sistematis. Aktivitasnya di organisasi pers kampus, Suara Airlangga, menjadi titik awal penguatan kompetensi jurnalistik. Selain itu, ia juga aktif mengikuti pelatihan di sejumlah media nasional, yang semakin memperkaya pengalaman dan jejaring profesionalnya.
Langkah strategis tersebut mencerminkan pentingnya perencanaan karier sejak dini. Bagi Pramono, dunia jurnalistik merupakan bidang yang terbuka bagi siapa saja, selama memiliki kemauan untuk belajar dan beradaptasi.
Kini, sebagai Executive Producer di Metro TV, Pramono memegang peran penting dalam menentukan arah konten dan kualitas siaran. Dalam menjalankan tugasnya, ia dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara idealisme jurnalistik dan tuntutan industri media yang bersifat komersial.
Ia menegaskan bahwa prinsip utama jurnalisme tetap harus dijaga, terutama dalam memastikan keakuratan informasi. Integritas menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar, meskipun dinamika industri terus berkembang.
Selain berbagi pengalaman, Pramono juga memberikan pesan kepada mahasiswa, khususnya dari latar belakang ilmu budaya, agar tidak merasa minder dalam menghadapi persaingan dunia kerja. Ia menekankan pentingnya penguatan soft skill seperti komunikasi, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.
Di era media multiplatform, seorang jurnalis dituntut memiliki kompetensi yang lebih luas, mulai dari kemampuan meliput, mengolah visual, hingga menyampaikan informasi secara langsung kepada publik. Oleh karena itu, kesiapan menghadapi perubahan menjadi kunci utama untuk tetap relevan.
Kisah Pramono Hari Susanto menjadi refleksi bahwa latar belakang pendidikan bukanlah batasan, melainkan fondasi untuk berkembang. Dengan perencanaan matang dan kemampuan adaptasi, lulusan sastra pun mampu menembus industri strategis dan memberikan kontribusi nyata dalam dunia media nasional. (tas)

