Semarang (prapanca.id) – Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar presentasi makalah ilmiah dari dua calon Guru Besar di Ruang Sidang Senat Akademik lantai 3 Gedung SA-MWA, Kampus UNDIP Tembalang. Kegiatan ini difasilitasi oleh Dewan Profesor Universitas Diponegoro sebagai bagian dari tahapan akademik menuju pengukuhan jabatan profesor.
Dua akademisi yang memaparkan makalahnya adalah Dr. Budiyono, S.KM., M.Kes. dari Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Dr. Wahyudi, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik. Keduanya mempresentasikan hasil riset yang tidak hanya relevan secara akademis, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas.
Dampak Pestisida dan Solusi Teknologi
Dalam makalah berjudul “Dampak Paparan Pestisida Terhadap Kualitas Generasi Bangsa dan Aplikasi Teknologi Pengendalian”, Dr. Budiyono mengungkapkan bahwa penggunaan pestisida di Indonesia meningkat tajam, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pengguna pestisida terbesar ketiga di dunia.
Selama tiga dekade terakhir (1990–2020), penggunaan pestisida di sektor pertanian meningkat sebesar 39%. Sayangnya, paparan pestisida ini menimbulkan berbagai dampak kesehatan, mulai dari iritasi, gangguan enzim cholinesterase, hipotiroidisme, penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes tipe 2, infertilitas, autisme, berat bayi lahir rendah, hingga stunting.
“Dampak kesehatan seperti stunting dan penyakit metabolik jelas akan memengaruhi kualitas generasi mendatang dan produktivitas bangsa,” jelas Dr. Budiyono. Sebagai solusi, ia menawarkan pendekatan teknologi dan sosial, antara lain:
- Penggunaan biopestisida yang lebih aman
- Penerapan ozone untuk menghilangkan jamur
- Pengendalian hama terpadu
- Pertanian organik berkelanjutan
- Edukasi kesehatan masyarakat
- Kolaborasi lintas sektor dan disiplin ilmu.
Teknologi Alat Bantu Tunanetra Berbasis AI
Sementara itu, Dr. Wahyudi mempresentasikan makalah berjudul “Perancangan Alat Bantu Tunanetra Berbasis Kecerdasan Buatan”. Riset ini menghadirkan inovasi alat bantu mobilitas yang ditujukan untuk meningkatkan kemandirian penyandang tunanetra.
Perangkat dirancang untuk dikenakan di kepala, dilengkapi dengan kamera time-of-flight, kamera web, sensor sentuh, serta algoritma K-Means, CNN (Convolutional Neural Network), dan sistem pemrograman concurrent pada Raspberry Pi 4B.
“Sistem ini mampu mendeteksi rintangan dan mengenali objek melalui audio spasial yang memanfaatkan sensitivitas pendengaran tunanetra,” jelas Dr. Wahyudi.
Beberapa fitur utama alat bantu ini meliputi:
- Deteksi rintangan dinamis dan statis secara real-time
- Audio spasial berbasis arah dan jarak objek
- Pengenalan objek berdasarkan nama, arah, dan posisi
- Desain ergonomis mengikuti struktur wajah pengguna
- Fleksibilitas output audio untuk berbagai kebutuhan individu
Dr. Wahyudi juga menambahkan bahwa pengembangan lebih lanjut akan mencakup integrasi sensor posisi dan pembaca teks, serta peningkatan kecepatan komputasi mikroprosesor untuk mendukung efisiensi sistem secara keseluruhan.
Dua paparan ilmiah dari calon Guru Besar ini memperlihatkan komitmen UNDIP dalam mendukung inovasi lintas bidang—mulai dari isu kesehatan lingkungan hingga teknologi untuk disabilitas. Universitas ini terus mendorong penelitian yang berdampak langsung terhadap masyarakat luas dan sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan presentasi makalah ilmiah ini menjadi bukti nyata bahwa Universitas Diponegoro bukan hanya sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai pusat solusi inovatif berbasis riset. (anz)

