Surabaya (prapanca.id) – Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menghadirkan kontribusi nyata mahasiswa dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pemberdayaan desa.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh Hafid Aditya Wicaksana, mahasiswa Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR. Selama menjalani BBK di Desa Banjarrejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, Hafid bersama timnya mendampingi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam pembuatan website usaha.
Hafid menjelaskan, ketertarikannya pada pengembangan website bermula dari tugas perkuliahan di semester lima. Menurutnya, kemampuan membangun dan mengelola website relevan dengan kebutuhan masyarakat di era digital.
“Website penting untuk menjaga eksistensi usaha sekaligus memudahkan masyarakat mengakses informasi, tanpa dibatasi ruang dan waktu,” ujarnya.
Saat terjun ke lapangan, Hafid menemukan bahwa sebagian besar pelaku UMKM masih memiliki keterbatasan pemahaman terkait pembuatan website. Kendala yang sering ditemui antara lain minimnya pengetahuan bahasa pemrograman serta anggapan bahwa biaya pembuatan website relatif mahal.
Menjawab tantangan tersebut, Hafid dan tim BBK memperkenalkan pemanfaatan website builder gratis dan domain berbiaya terjangkau. Pendekatan ini dinilai sesuai dengan kebutuhan UMKM desa yang masih berskala kecil dan belum memerlukan sistem digital yang kompleks.
“Kesulitan teknis bisa diatasi dengan belajar bertahap. Yang terpenting, pelaku UMKM berani memulai,” katanya.
Melalui pendampingan tersebut, sejumlah UMKM di Desa Banjarrejo berhasil memiliki website sederhana sebagai sarana promosi dan informasi usaha. Antusiasme tidak hanya datang dari pelaku UMKM, tetapi juga masyarakat umum hingga anak-anak yang turut mengikuti praktik pembuatan website.
Selain menjalankan program kerja, Hafid dan rekan-rekannya juga aktif berbaur dengan masyarakat. Mereka terlibat membantu aktivitas pertanian serta mempelajari pengelolaan potensi desa, termasuk pemanfaatan waduk sebagai sumber pendapatan desa.
Pengalaman BBK ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat mampu menciptakan dampak positif. Bagi Hafid, BBK menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengabdian yang memperkuat peran mahasiswa dalam pembangunan desa berbasis pengetahuan. (tas)

