Surabaya (prapanca.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung ekosistem seni dan budaya melalui kegiatan On The Spot (OTS) bertajuk “Beauty of Balai Pemuda Surabaya”. Kegiatan melukis bersama ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April.
Berlokasi di Balai Pemuda Surabaya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang ekspresi kreatif bagi para seniman, tetapi juga memperkuat posisi tempat tersebut sebagai pusat kesenian bersejarah di Kota Pahlawan.
Ketua Sanggar Merah Putih, M. Anis, menilai Balai Pemuda memiliki nilai historis yang tidak tergantikan dalam perjalanan seni di Surabaya. Sejak dekade 1970-an, ruang ini telah menjadi titik lahirnya sejumlah seniman nasional ternama, sekaligus wadah bagi generasi baru untuk berkembang.
Menurut Anis, keberadaan Balai Pemuda tidak semata dilihat sebagai infrastruktur fisik, melainkan simbol keberlanjutan ekosistem seni yang harus dijaga. Ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memastikan ruang-ruang kesenian tetap hidup dan dapat diakses oleh pelaku seni lintas generasi.
Lebih lanjut, ia memandang bahwa sektor kesenian memang tidak selalu dapat diukur dari kontribusi ekonomi langsung seperti pendapatan asli daerah (PAD). Namun, peran seni dianggap vital dalam menjaga keseimbangan pembangunan kota, terutama dari aspek sosial dan budaya.
Apresiasi juga disampaikan kepada Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang dinilai tetap memberikan ruang terbuka bagi berbagai cabang seni untuk tampil dan berkembang di Balai Pemuda. Kebijakan tersebut dianggap sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlangsungan aktivitas seni di tengah dinamika pembangunan kota.
Di sisi lain, aktivitas seni rupa di kawasan tersebut juga terus menunjukkan geliat positif. Galeri Merah Putih, misalnya, menjadi salah satu ruang yang aktif menyelenggarakan pameran lukisan secara rutin sepanjang tahun. Intensitas kegiatan yang tinggi menjadikan galeri ini sebagai salah satu pusat aktivitas seni lukis yang dinamis di Surabaya.
Meski demikian, para pelaku seni sempat menghadapi kekhawatiran terkait isu perubahan fungsi ruang. Hal ini menjadi pengingat pentingnya konsistensi kebijakan dalam menjaga keberadaan ruang seni sebagai bagian dari identitas kota.
Sementara itu, pelaku seni tari Surabaya, Sri Mulyani, menilai perkembangan kelembagaan seperti Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menjadi langkah positif dalam memperluas cakupan pengembangan budaya. Ia melihat pendekatan kebudayaan memiliki spektrum yang lebih luas dibandingkan kesenian semata, sehingga mampu mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Sri Mulyani juga mengakui bahwa dukungan Pemkot Surabaya terhadap pelaku seni selama ini cukup signifikan. Mulai dari penyediaan fasilitas pertunjukan hingga dukungan kegiatan di luar daerah, semuanya berkontribusi dalam meningkatkan kualitas karya dan memperluas jejaring seniman.
Ia mencontohkan bagaimana fasilitas gedung pertunjukan yang memadai, termasuk sistem pencahayaan dan suara, mampu menunjang penyelenggaraan event berskala nasional hingga internasional. Hal ini membuka peluang bagi seniman lokal untuk tampil di panggung yang lebih luas.
Selain itu, berbagai agenda dan festival yang digelar Pemkot Surabaya turut menciptakan atmosfer seni yang semakin hidup. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi seniman, tetapi juga daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati kekayaan budaya kota.
Melalui kegiatan OTS “Beauty of Balai Pemuda”, Pemkot Surabaya kembali menunjukkan bahwa seni dan budaya tetap menjadi bagian integral dari pembangunan kota. Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku seni diharapkan terus terjaga, sehingga Surabaya dapat berkembang tidak hanya sebagai kota modern, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan. (tas)

