Surabaya (prapanca.id) – Perjalanan karier Dr. Solikin M. Juhro, SE, MAE, MA, dari aktivis mahasiswa hingga menduduki posisi strategis sebagai Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi inspirasi tersendiri bagi generasi muda. Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) tersebut membagikan pandangannya tentang kepemimpinan, karakter, dan bekal penting yang harus dimiliki mahasiswa di era digital.
Selain aktif di bank sentral, Solikin juga dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) untuk periode ketiga. Menurutnya, kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan, melainkan tentang nilai dan kebermanfaatan.
“Leadership itu esensinya adalah The Power of We. Dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Ada dimensi melayani untuk kepentingan bersama,” ujar Solikin.
Pengalaman organisasinya sejak masa kuliah, mulai dari Badan Perwakilan Mahasiswa, himpunan mahasiswa, hingga organisasi kepemudaan di kampung halaman, membentuk karakter kepemimpinan yang inklusif. Ia juga menanamkan filosofi Ki Hajar Dewantara serta nilai keteladanan Rasulullah sebagai fondasi kepemimpinan.
Menghadapi era digital yang penuh disrupsi, Solikin menilai pemimpin dituntut adaptif dan relevan. Digitalisasi yang berkembang pesat telah menggeser pola kekuasaan dan cara kerja konvensional.
“Lingkungan strategis berubah sangat cepat, penuh ambiguitas dan ketidakpastian. Karena itu, pemimpin harus mampu berinovasi dan berkolaborasi,” jelasnya.
Ia menekankan tiga pilar utama agar seseorang tetap berdampak, yakni profesionalitas, inovasi, dan sinergi. Kerja keras, menurutnya, harus dibarengi dengan kemampuan menciptakan terobosan dan membangun kolaborasi lintas sektor.
Kepada mahasiswa UNAIR, Solikin berpesan agar tidak hanya mengandalkan kecerdasan akademik. Ia memperkenalkan konsep Tri-Cerdas, yakni kecerdasan spiritual (visi dan nilai), kecerdasan intelektual (aksi strategis), dan kecerdasan komunikasi (kolaborasi).
Di tengah kesibukan sebagai pejabat BI, Solikin tetap aktif menulis jurnal internasional dan buku akademik. Baginya, proses belajar dan memperbaiki nilai diri adalah perjalanan seumur hidup. (tas)

