Surabaya (prapanca.id) – Transformasi digital membuka ruang baru bagi perempuan untuk berkembang, baik dalam aspek personal maupun ekonomi. Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, mendorong perempuan untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana aktualisasi diri sekaligus penguatan kapasitas di era digital.
Hal tersebut disampaikan Arumi usai menjadi pembicara dalam forum bertema peran perempuan dalam mengakses dan menyebarkan informasi digital yang digelar di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Surabaya. Ia menilai bahwa perkembangan teknologi telah menciptakan akses yang setara antara laki-laki dan perempuan terhadap informasi dan jejaring global.
Menurutnya, digitalisasi menghadirkan kondisi tanpa batas yang memungkinkan siapa pun untuk terhubung, belajar, hingga mengembangkan potensi tanpa hambatan geografis. Kondisi ini menjadi peluang strategis bagi perempuan untuk meningkatkan kualitas diri, termasuk dalam hal literasi keuangan, pengembangan komunitas, serta akses terhadap berbagai peluang ekonomi.
Arumi mengungkapkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat Indonesia dalam penggunaan media sosial terus meningkat. Berdasarkan data We Are Social 2024, sebanyak 50,2 persen penduduk Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial. Bahkan, hingga akhir 2025, perempuan tercatat mendominasi dengan persentase 56,3 persen. Tren ini telah terlihat sejak beberapa tahun sebelumnya, termasuk pada platform Instagram yang mayoritas penggunanya adalah perempuan.
Dominasi tersebut, menurut Arumi, harus dimanfaatkan secara optimal. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga dapat menjadi medium untuk membangun jejaring, berbagi pengetahuan, hingga membuka peluang usaha. Banyak aktivitas produktif seperti pemasaran digital, kolaborasi bisnis, hingga pengembangan personal branding dapat dilakukan melalui platform digital.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan media sosial juga memiliki risiko. Tanpa kontrol diri yang baik, media sosial dapat membawa dampak negatif, baik secara psikologis maupun sosial. Oleh karena itu, perempuan dituntut untuk memiliki kecerdasan digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
Selain itu, Arumi juga menekankan pentingnya peran perempuan sebagai ibu dalam mendampingi anak-anak saat mengakses media sosial. Ia menilai bahwa orang tua harus menjadi filter utama dalam membimbing anak agar tidak terpapar konten negatif.
Dengan pemahaman yang tepat, media sosial dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup. Arumi berharap perempuan dapat mengambil peran lebih besar dalam ekosistem digital, tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai penggerak perubahan yang positif di masyarakat.
Ia menegaskan bahwa era digital merupakan momentum penting bagi perempuan untuk berkembang, selama dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab. (tas)

