Surabaya (prapanca.id) – Ketua Dekranasda Jawa Timur sekaligus Bunda Literasi Jatim, Arumi Bachsin Emil Dardak, menggaungkan Gerakan 30 Menit Membaca di Rumah saat menjadi pemateri dalam Sharing Session Literasi dan Minat Baca di Gedung Nusantara II, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Rabu (11/2/2026).
Dalam forum yang berlangsung di Ruang Badan Musyawarah (Bamus) tersebut, Arumi menekankan bahwa budaya membaca tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten di lingkungan keluarga.
“Jika setiap keluarga menyediakan waktu 30 menit sehari untuk membaca bersama, kita sedang membangun fondasi peradaban,” ujarnya.
Arumi menjelaskan, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kecakapan memahami, menganalisis, serta memanfaatkan informasi guna meningkatkan kualitas hidup. Ia menegaskan, pembiasaan membaca idealnya dimulai sejak masa kehamilan, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan anak yang merupakan fase emas perkembangan otak.
Menurutnya, stimulasi seperti membacakan buku dan mendongeng mampu memperkuat kemampuan bahasa serta daya pikir anak. Kebiasaan ini juga berdampak jangka panjang, mulai dari peningkatan konsentrasi hingga menjaga fungsi kognitif di usia dewasa.
Lebih lanjut, Arumi menyebut literasi memiliki korelasi kuat dengan kesejahteraan ekonomi. Berbagai studi menunjukkan tambahan satu tahun pendidikan dapat meningkatkan pendapatan sekitar 10 persen. Selain itu, literasi perempuan juga berdampak pada peningkatan kesadaran kesehatan, gizi, dan imunisasi anak.
Data Perpustakaan Nasional RI mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Jawa Timur pada 2024 mencapai 77,15, meningkat dari 69,78 pada 2023. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional yang tercatat 72,44. Sementara Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jawa Timur mencapai 78,60, melampaui angka nasional 73,53.
“Angka bukan tujuan akhir. Tantangan kita memastikan budaya baca benar-benar hidup di setiap rumah,” tegasnya. (tas)

