Jakarta (prapanca,id) – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memulai bulan pertama masa kepemimpinannya dengan menegaskan fokus pada penguatan internal organisasi. Arah kebijakan tersebut disampaikannya dalam pertemuan dengan jajaran pimpinan BRIN di Auditorium Gedung 71, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong.
Arif menilai bahwa konsolidasi awal diperlukan agar target strategis BRIN berada pada jalur yang tepat sejak awal tahun. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi riset yang besar dan harus dimanfaatkan untuk menjawab berbagai tantangan nasional.
Salah satu contoh yang ia soroti ialah inovasi penanganan land subsidence di Pantai Utara Jawa, yang dinilai telah memberikan dampak nyata bagi penanggulangan banjir dan perubahan lingkungan.
Kenyamanan Periset Menjadi Prioritas Utama
Dalam arahannya, Arif menempatkan periset sebagai konstituen utama BRIN. Ia menyampaikan bahwa kenyamanan bekerja, motivasi, hingga apresiasi kinerja merupakan aspek penting yang tengah dievaluasi. Sejumlah langkah yang sedang ditinjau mencakup standar biaya riset, pengelolaan fasilitas laboratorium, perbaikan ruang kerja, serta penyederhanaan akses layanan riset seperti E-Layanan Sains (ELSA).
Arif juga menekankan perlunya peningkatan efisiensi layanan internal agar periset dapat bekerja secara optimal dan fokus pada penciptaan pengetahuan baru serta inovasi yang berdampak.
Kombinasi Riset Bottom-Up dan Top-Down
Untuk memperkuat arah kebijakan riset nasional, Arif menjelaskan bahwa BRIN akan mengimplementasikan dua pendekatan sekaligus. Riset bottom-up tetap menjadi ruang kreasi periset dalam mengembangkan ide ilmiah, sementara riset top-down diarahkan untuk menjawab isu strategis nasional melalui koordinasi antarkementerian dan lembaga.
Salah satu isu yang mendapat perhatian khusus adalah pengelolaan sumber daya perikanan. BRIN tengah merencanakan pembentukan Pusat Riset Perikanan Tangkap serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang stock assessment dan kecerdasan artifisial pada 2026.
Penguatan Komunikasi Publik Riset
Selain penguatan kelembagaan dan SDM, Arif menilai bahwa hasil penelitian harus dikomunikasikan lebih luas agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Baginya, komunikasi publik bukan hanya distribusi informasi, tetapi juga sarana membangun inspirasi dan pemahaman publik tentang arti penting riset dan inovasi.
Ia mendorong seluruh sivitas BRIN untuk lebih aktif mempublikasikan hasil riset melalui berbagai kanal, mulai dari media sosial hingga situs pribadi. Arif juga menyampaikan bahwa BRIN telah berkoordinasi dengan pihak Istana untuk memperluas jangkauan publikasi inovasi melalui kanal resmi Presiden.
Komitmen BRIN untuk Riset yang Berdampak
Dengan penguatan tata kelola, peningkatan kapasitas periset, dan strategi komunikasi yang lebih terbuka, BRIN menegaskan komitmennya menghadirkan ekosistem riset yang relevan dan berdampak bagi masyarakat. Arif menilai langkah-langkah tersebut penting untuk memastikan riset Indonesia mampu menjawab kebutuhan bangsa dan mendukung pembangunan berbasis inovasi.
Strategi yang ia canangkan pada awal masa kepemimpinannya menjadi fondasi bagi upaya BRIN untuk memperkuat peran riset dalam mendorong kemajuan Indonesia. (anz)

