Surabaya (prapanca.id) – Penanganan problem sosial yang kian kompleks di tengah masyarakat memerlukan kolaborasi lintas sektor yang adaptif dan solutif. Merespons tantangan tersebut, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya memperkuat sinergi dengan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dalam upaya peningkatan kapasitas Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (TSKPO).
Langkah strategis ini merupakan tindak lanjut nyata dari Nota Kesepahaman antara Menteri Sosial dengan Rektor UINSA Nomor 12 Tahun 2026, serta Perjanjian Kerja Sama mengenai Gerakan Peduli Panti Sosial Bermutu yang telah disepakati pada Mei lalu. Melalui kolaborasi ini, institusi pendidikan tinggi berkomitmen membawa basis akademis langsung ke lapangan guna memitigasi problem sosial seperti kekerasan seksual, penyalahgunaan narkotika, hingga perdagangan manusia (human trafficking).
Urgensi Pendekatan Pentahelix dalam Krisis Kemanusiaan
Dalam forum yang berlangsung di Kantor Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur pada Jumat (3/7/2026), Plt. Rektor UINSA, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., menekankan bahwa tanggung jawab menyelesaikan dinamika sosial tidak bisa dibebankan kepada satu instansi saja. Menurutnya, Kementerian Sosial dan jajaran daerah memerlukan dukungan penuh dari berbagai elemen bangsa.
Prof. Muzakki menyatakan bahwa potret problem sosial saat ini berskala nasional, sehingga penanganannya wajib mengadopsi pendekatan pentahelix—yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, hingga media. Kehadiran perguruan tinggi melalui pilar Tri Dharma, khususnya pengabdian masyarakat, menjadi intervensi krusial dalam mendampingi panti-panti sosial serta menguatkan peran LKS. Perlindungan hukum, jaminan kerahasiaan identitas korban, rehabilitasi psikososial, serta pemberdayaan ekonomi berbasis vokasi menjadi empat pilar utama yang harus dioptimalkan secara terintegrasi.
Mobilisasi Lintas Disiplin Keilmuan dan Fakultas
Bentuk kontribusi riil yang disiapkan oleh UINSA tidak hanya berupa konsep di atas kertas, melainkan penerjunan langsung sumber daya manusia (SDM) dan pakar ke panti asuhan, LKS, hingga Sekolah Rakyat di bawah binaan Dinas Sosial. Kampus berbasis Islam negeri di Surabaya ini memaksimalkan keahlian spesifik dari berbagai disiplin ilmu untuk menyentuh akar rumput permasalahan.
Implementasi di lapangan akan menggerakkan sejumlah program studi (prodi) strategis. Fakultas Psikologi dan Kesehatan akan menerjunkan tim dari Prodi Psikologi dan Gizi untuk memulihkan kondisi mental sekaligus fisik para penyintas. Sementara itu, Fakultas Dakwah dan Komunikasi melibatkan Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) serta Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) guna menyusun program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Pendampingan Psikososial dan Pemulihan Trauma
Selain penguatan ekonomi, fokus utama dari kerja sama ini adalah pemulihan trauma (trauma healing) bagi korban sekunder maupun keluarganya. Keterlibatan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat melalui Prodi Tasawuf dan Psikoterapi serta Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) diharapkan mampu memberikan pendekatan pemulihan spiritual yang menenangkan.
Dukungan metodologis juga akan diperkuat oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dalam merancang modul edukasi panti yang inklusif. Prof. Muzakki mengonfirmasi bahwa pascapertemuan di Dinas Sosial, pihak rektorat langsung menggelar rapat koordinasi internal guna memastikan seluruh skema konseling klinis, layanan psikososial, dan manajemen pendampingan panti sosial bermutu ini dapat segera dieksekusi secara masif dan terukur. (tas)

