Surabaya (prapanca.id) — Insiden tabrakan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo dan KRL lintas Cikarang di Stasiun Bekasi Timur memunculkan perhatian luas, tidak hanya terkait keselamatan transportasi, tetapi juga dampak psikologis yang dialami korban. Peristiwa tersebut dinilai berpotensi menimbulkan trauma, terutama bagi penumpang yang mengalami langsung kejadian tersebut.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Atika Dian Ariana, M.Sc., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kecelakaan merupakan peristiwa krisis yang dapat memicu respons stres akut. Reaksi ini muncul sebagai mekanisme alami tubuh ketika menghadapi situasi yang mengancam keselamatan secara tiba-tiba.
Respons Psikologis Awal Pasca Kecelakaan
Menurut Atika, pada fase awal, korban umumnya mengalami kondisi syok yang ditandai dengan kebingungan, disorientasi, hingga kesulitan memahami situasi yang terjadi. Dalam beberapa jam hingga hari setelah kejadian, respons tersebut dapat berkembang menjadi emosi yang lebih kompleks seperti kecemasan, ketakutan, hingga kemarahan.
Selain aspek emosional, respons fisik juga kerap muncul sebagai bagian dari reaksi stres. Gejala seperti jantung berdebar, gemetar, keringat dingin, hingga sesak napas menjadi indikator bahwa tubuh berada dalam kondisi siaga tinggi.
Ia menekankan bahwa variasi respons ini sangat bergantung pada persepsi individu terhadap peristiwa yang dialami. Artinya, dua orang yang berada dalam kejadian yang sama dapat menunjukkan reaksi psikologis yang berbeda.
Risiko Trauma dan PTSD
Lebih lanjut, Atika mengingatkan bahwa tidak semua korban akan mengalami trauma jangka panjang. Namun, jika peristiwa tersebut dipersepsikan sebagai pengalaman yang melampaui kapasitas ketahanan individu, maka risiko gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) dapat meningkat.
Secara ilmiah, PTSD merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan munculnya kembali ingatan traumatis secara berulang, baik melalui mimpi buruk maupun kilas balik (flashback). Kondisi ini juga sering disertai dengan peningkatan kewaspadaan serta kecenderungan menghindari hal-hal yang berkaitan dengan kejadian traumatis.
Atika menyebutkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang dapat memperparah risiko tersebut. Di antaranya adalah pengalaman trauma sebelumnya, riwayat gangguan mental, serta minimnya dukungan sosial dari lingkungan sekitar.
Selain itu, tekanan eksternal seperti masalah ekonomi, pekerjaan, atau akademik juga dapat memperlambat proses pemulihan psikologis korban.
Pentingnya Deteksi Dini dan Intervensi Profesional
Dalam konteks penanganan, Atika menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gejala trauma. Tanda-tanda seperti gangguan tidur, kecemasan berlebih, emosi tidak stabil, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial perlu menjadi perhatian serius.
Jika gejala tersebut berlangsung secara berulang dalam jangka waktu yang cukup lama, individu disarankan segera mencari bantuan profesional. Penanganan psikologis yang tepat, seperti konseling atau terapi trauma, dinilai efektif dalam membantu korban memproses pengalaman yang dialami.
Peran Negara dalam Pemulihan Korban
Selain peran individu dan keluarga, Atika juga menyoroti pentingnya keterlibatan pemerintah dalam memastikan pemulihan korban berjalan optimal. Ia menilai bahwa dukungan psikologis harus menjadi bagian integral dari penanganan pascakecelakaan, tidak hanya fokus pada aspek fisik.
Pendampingan psikologis yang terstruktur, investigasi yang transparan, serta kepastian hukum bagi korban dan keluarga menjadi elemen penting dalam proses pemulihan. Selain itu, perlindungan hak kerja bagi korban juga diperlukan agar mereka dapat pulih tanpa tekanan tambahan.
Trauma sebagai Dampak Tak Terlihat
Peristiwa kecelakaan transportasi sering kali dipahami sebatas dampak fisik yang terlihat. Namun, trauma psikologis merupakan konsekuensi yang tidak kalah serius dan dapat berlangsung dalam jangka panjang jika tidak ditangani dengan tepat.
Melalui pendekatan yang komprehensif—mulai dari deteksi dini, dukungan sosial, hingga intervensi profesional—dampak psikologis tersebut dapat diminimalkan. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keselamatan transportasi tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga kesiapan sistem dalam menangani dampak mental para korban. (tas)

