Surabaya (prapanca.id) – Arizal Tom Liwafa resmi menyandang gelar doktor setelah menjalani Ujian Terbuka Promosi Doktor di Universitas Airlangga, Sabtu (28/2/2026). Sidang digelar di Ruang Ujian Doktor Terbuka Sekolah Pascasarjana Lantai 2 Kampus Dharmawangsa-B dan dihadiri sejumlah akademisi, pejabat publik, serta undangan dari berbagai kalangan.
Dalam ujian tersebut, Tom mempresentasikan disertasi berjudul Pengaruh Entrepreneurial Orientation dan Knowledge Transfer terhadap Innovation Aesthetics dan Sustainable Competitive Advantage. Riset ini menitikberatkan pada peran orientasi kewirausahaan dan transfer pengetahuan dalam mendorong inovasi serta membangun keunggulan bersaing berkelanjutan, khususnya pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sidang dipimpin oleh Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si. selaku promotor dan Prof. Dr. Fendy Suhariadi, M.T., Psikolog sebagai co-promotor. Tim penguji terdiri atas sejumlah guru besar lintas disiplin, mulai dari bidang manajemen, hukum, ekonomi syariah, hingga kesehatan.
Dalam pemaparannya, Tom menjelaskan bahwa entrepreneurial orientation tidak hanya dimaknai sebagai keberanian memulai usaha, melainkan mencakup dimensi proaktivitas, inovasi, dan pengambilan risiko yang terukur. Menurutnya, karakter tersebut menjadi fondasi penting bagi UMKM untuk bertahan di tengah dinamika pasar yang kompetitif.
Ia juga menekankan pentingnya knowledge transfer atau transfer pengetahuan dalam organisasi. Mekanisme ini dinilai krusial untuk memastikan pengalaman, gagasan, dan praktik terbaik dapat dibagikan secara sistematis sehingga meningkatkan kapasitas inovasi internal.
Tom menyoroti bahwa kajian akademik mengenai UMKM dalam publikasi internasional masih relatif terbatas. Karena itu, ia menilai penguatan riset berbasis UMKM menjadi kebutuhan mendesak agar sektor ini tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi nasional, tetapi juga mendapatkan legitimasi ilmiah yang kuat di tingkat global.
Salah satu temuan utama dalam disertasinya adalah peran innovation aesthetics sebagai variabel mediasi. Ia menjelaskan bahwa inovasi tidak cukup berhenti pada penciptaan produk atau layanan baru, melainkan harus menghadirkan nilai estetika dan pengalaman yang relevan dengan preferensi pasar. Pendekatan ini diyakini mampu menciptakan diferensiasi dan memperkuat sustainable competitive advantage.
Setelah melalui rangkaian ujian dan sesi tanya jawab, disertasinya dinyatakan diterima. Tom Liwafa lulus dengan predikat cumlaude dan tercatat sebagai doktor ke-124 pada Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana UNAIR. Ia menyatakan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan UMKM, khususnya di Jawa Timur, melalui pendekatan berbasis riset dan inovasi berkelanjutan. (tas)

