Los Angeles (prapanca.id) – Usia 41 tahun tak menghalangi langkah LeBron James untuk terus menorehkan tinta emas dalam sejarah NBA. Megabintang Los Angeles Lakers itu dipastikan kembali tampil di NBA All-Star untuk ke-21 kalinya sepanjang karier profesionalnya.
Kehadiran James di Intuit Dome, Los Angeles, menjadi penegasan bahwa dirinya masih berada di level elite meski telah memasuki musim ke-23 di liga basket paling kompetitif di dunia tersebut. Penampilan ini sekaligus memperpanjang rekor sebagai pemain dengan jumlah seleksi dan partisipasi All-Star terbanyak dalam sejarah NBA.
Pada edisi 2025 di San Francisco, James sempat absen akibat kendala fisik. Namun, musim ini ia kembali dengan kondisi prima, memperlihatkan konsistensi performa yang membuatnya tetap relevan di tengah dominasi pemain muda.
Menjelang jeda All-Star, James menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin tim. Dalam kemenangan 124-104 atas Dallas Mavericks, ia membukukan triple-double ke-123 sepanjang karier dengan 28 poin, 12 assist, dan 10 rebound.
Catatan tersebut menjadikannya pemain tertua dalam sejarah NBA yang mampu mencetak triple-double. Sebuah pencapaian yang mempertegas daya tahan dan kualitas permainan yang tetap kompetitif.
Rekan setim seperti Austin Reaves hingga pelatih JJ Redick menilai kontribusi James tak hanya terlihat dari statistik, tetapi juga dari kecerdasan membaca permainan dan kepemimpinan di lapangan.
Perjalanan All-Star pertama James terjadi lebih dari dua dekade lalu, saat ia berbagi panggung dengan nama-nama besar seperti Shaquille O’Neal dan Allen Iverson. Kala itu, ia masih berusia 20 tahun. Kini, generasi pemain yang tumbuh dengan menyaksikan kejayaannya justru menjadi rekan sekaligus lawan di panggung yang sama.
James mengakui bahwa menjaga kondisi fisik menjadi tantangan terbesar di usia sekarang. Namun, ia menegaskan bahwa kecintaan terhadap permainan dan kemampuannya mengolah bola tetap menjadi kekuatan utama.
Setelah tampil di laga bertabur bintang di Intuit Dome, James berencana memanfaatkan jeda untuk memulihkan kondisi fisik. Target berikutnya adalah memastikan Lakers tetap kompetitif dalam perebutan posisi menuju babak playoff.
Kembalinya LeBron ke NBA All-Star bukan sekadar partisipasi simbolis. Di usia yang tak lagi muda untuk ukuran atlet profesional, ia kembali membuktikan bahwa batasan usia bisa dipatahkan dengan disiplin, konsistensi, dan mentalitas juara.
Bagi publik Los Angeles dan penggemar NBA di seluruh dunia, momen ini menjadi saksi bagaimana seorang legenda hidup terus menulis sejarah, bahkan ketika sebagian besar pemain seusianya telah lama gantung sepatu. (ant)

