Surabaya (prapanca.id) – Nilai tukar Indonesian Rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap United States Dollar pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026.
Berdasarkan data pasar dari Investing Indonesia hingga pukul 09.30 WIB, rupiah berada di level Rp17.6092 per dolar AS. Posisi tersebut melemah sekitar 111,5 poin atau turun 0,64 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Pelemahan ini memperpanjang tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa hari terakhir bergerak fluktuatif di tengah penguatan mata uang dolar secara global.
Penguatan mata uang Amerika Serikat juga tercermin dari pergerakan US Dollar Index atau Indeks Dolar AS yang naik 0,26 persen ke level 98,987.
Kenaikan indeks tersebut menunjukkan dolar AS sedang menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia, termasuk mata uang negara berkembang.
Sentimen pasar saat ini masih dipengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve, serta pergerakan arus modal asing di pasar emerging market.
Selain dolar AS, sejumlah mata uang global lainnya juga tercatat menguat terhadap rupiah.
Euro naik sekitar 0,45 persen ke posisi Rp20.541 per euro.
Sementara itu, Japanese Yen menguat 0,27 persen menjadi Rp111,09 per yen.
Chinese Yuan juga mengalami penguatan sekitar 0,19 persen ke level Rp2.591,23 per yuan.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia Tenggara justru bergerak melemah tipis terhadap rupiah.
Thai Baht turun tipis ke posisi Rp541,764, sedangkan Malaysian Ringgit terkoreksi sekitar 0,05 persen menjadi Rp4.461,06.
Di tengah penguatan dolar AS, harga emas dunia juga mengalami tekanan.
Instrumen Gold dengan pasangan XAU/USD tercatat turun sekitar 0,77 persen atau melemah 35,79 poin ke level 4.616,67.
Secara umum, penguatan dolar AS biasanya membuat harga emas tertekan karena logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Analis menilai pelemahan rupiah saat ini masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan pergerakan dana asing di pasar global.
Ketika dolar AS menguat, investor cenderung memindahkan aset ke instrumen berbasis dolar yang dianggap lebih aman, sehingga memberi tekanan terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah.
Selain faktor global, pelaku pasar juga masih mencermati kondisi ekonomi domestik serta stabilitas pasar keuangan regional dalam beberapa pekan ke depan.
Dengan kondisi pasar global yang masih dinamis, nilai tukar Indonesian Rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek.
Penguatan dolar AS, arah suku bunga The Fed, hingga tensi geopolitik global menjadi faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan pasar keuangan dan mata uang dunia sepanjang kuartal kedua 2026. (ant)

