Surabaya (prapanca.id) – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) sebagai upaya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan hewan di daerah. Kegiatan yang berlangsung pada 4–5 Mei 2026 di Kabupaten Bojonegoro ini menyasar paramedik veteriner, dokter hewan, serta praktisi klinik hewan.
Bimtek tersebut dirancang untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia di sektor kesehatan hewan, khususnya dalam menghadapi tantangan penyakit ternak serta peningkatan kualitas layanan veteriner di lapangan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat berkelanjutan yang diinisiasi oleh FKH UNAIR.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan pembekalan materi yang bersifat aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan lapangan. Materi yang diberikan mencakup penanganan penyakit hewan menular, manajemen kesehatan ternak, hingga penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam praktik klinis.
Wakil Ketua Pelaksana kegiatan, Prof Dr Wiwik Misaco Yuniarti, menegaskan bahwa program ini tidak hanya bersifat pelatihan jangka pendek, melainkan bagian dari strategi jangka panjang dalam penguatan sektor peternakan daerah. Ia menjelaskan bahwa FKH UNAIR berupaya melakukan pemetaan kebutuhan sektor peternakan di tingkat kabupaten guna menghasilkan intervensi yang tepat sasaran.
Prof Wiwik juga menyoroti masih ditemukannya kasus penyakit hewan strategis seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Bojonegoro. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa penguatan kapasitas tenaga kesehatan hewan masih sangat diperlukan, terutama dalam aspek deteksi dini dan penanganan penyakit secara cepat dan tepat.
Selain fokus pada kesehatan hewan, program ini juga diarahkan untuk memberikan dampak lebih luas terhadap masyarakat. FKH UNAIR berencana mengintegrasikan pendekatan lintas disiplin, termasuk melalui program peningkatan gizi berbasis protein hewani dari hasil peternakan.
Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong pemanfaatan produk ternak secara optimal, sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pengabdian yang tidak hanya berorientasi pada sektor peternakan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
FKH UNAIR juga menekankan pentingnya membangun komunikasi berkelanjutan dengan para tenaga kesehatan hewan di daerah. Kolaborasi antara akademisi dan praktisi dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sistem kesehatan hewan yang responsif dan adaptif terhadap berbagai tantangan.
Melalui kegiatan ini, UNAIR berupaya memastikan bahwa inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan akademik dapat diimplementasikan secara nyata di lapangan. Dengan demikian, penguatan kapasitas tenaga kesehatan hewan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut sebagai proses berkelanjutan untuk mendukung ketahanan sektor peternakan di daerah. (tas)

