Surabaya (prapanca.id) – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Gedung Negara Gedung Negara Grahadi berlangsung meriah dengan pameran dan konvoi kendaraan listrik hasil karya siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Timur, Kamis (8/5/2026).
Puluhan kendaraan listrik, mulai dari sepeda motor hingga mobil, ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Seluruh kendaraan merupakan hasil inovasi para siswa dan guru SMK yang mengembangkan teknologi kendaraan listrik berbasis konversi bahan bakar minyak (BBM) maupun kendaraan listrik baru.
Konvoi kendaraan listrik itu menarik perhatian jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur serta tamu undangan yang hadir dalam peringatan Hardiknas. Kendaraan-kendaraan tersebut dinilai menunjukkan perkembangan pendidikan vokasi yang semakin adaptif terhadap kebutuhan industri masa depan.
Khofifah Indar Parawansa tampak meninjau langsung sejumlah kendaraan listrik yang dipamerkan. Ia menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas dan kemampuan teknologi siswa SMK Jawa Timur dalam menghasilkan inovasi yang dinilai kompetitif.
Menurut Khofifah, karya kendaraan listrik tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi di Jawa Timur telah mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan industri otomotif yang kini mengarah pada elektrifikasi kendaraan.
“Anak-anak SMK Jawa Timur membuktikan bahwa mereka memiliki kompetensi, kreativitas, dan kemampuan teknologi yang membanggakan. Kendaraan listrik ini bukan sekadar karya praktik sekolah, tetapi sudah menunjukkan kualitas yang siap bersaing dan menjawab kebutuhan industri otomotif masa depan,” ujar Khofifah.
Ia menilai pengembangan kendaraan listrik juga menjadi bagian penting dalam mendukung percepatan transisi energi ramah lingkungan dan pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil.
Menurutnya, inovasi yang dilakukan siswa SMK sejalan dengan upaya pemerintah menuju target Net Zero Emission 2060 melalui pemanfaatan energi nonfosil.
“Ini menjadi pendorong semangat menuju Net Zero Emission 2060. Bagaimana kita mengonversi energi dari fosil ke nonfosil dan itu dimulai dari anak-anak SMK,” katanya.
Khofifah menjelaskan, pameran kendaraan listrik sengaja dihadirkan dalam momentum Hardiknas agar masyarakat dapat melihat secara langsung kemampuan siswa SMK dalam menghasilkan produk berbasis teknologi.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan motivasi siswa untuk terus berinovasi sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan dunia industri.
“Karya kendaraan listrik ini dipamerkan agar masyarakat mengetahui bahwa siswa SMK memiliki kemampuan luar biasa. Harapannya mereka semakin termotivasi untuk berkarya dan semakin banyak industri yang bersinergi,” tegasnya.
Selain menjadi ajang unjuk kemampuan pendidikan vokasi, pengembangan kendaraan listrik oleh SMK juga dinilai sebagai kontribusi generasi muda dalam mendukung transisi energi hijau dan pengurangan emisi gas rumah kaca.
Khofifah mengungkapkan bahwa beberapa kendaraan listrik hasil karya SMK Jawa Timur bahkan mulai dilirik pihak industri untuk dikembangkan lebih lanjut dan diproduksi secara massal.
Ia juga menyebut Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik karya siswa SMK rata-rata telah mencapai sekitar 50 persen. Hanya sebagian kecil komponen tertentu yang masih menggunakan produk impor.
“Yang menarik, TKDN kendaraan listrik ini rata-rata sudah mencapai 50 persen. Hanya beberapa komponen tertentu yang masih impor,” ujarnya.
Menurut Khofifah, capaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi di Jawa Timur mampu menjawab kebutuhan industri yang berkembang secara cepat dan dinamis.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa momentum Hardiknas bukan hanya menjadi refleksi peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga ruang untuk menunjukkan hasil nyata proses pembelajaran siswa.
Ia menyebut kendaraan listrik yang diproduksi para siswa bukan lagi sekadar alat praktik pendidikan, melainkan telah memiliki potensi untuk dimanfaatkan pasar dan industri.
“Ini bukti bahwa keterampilan dan kompetensi siswa kita tidak kalah dengan buatan industri. Yang dibuat para siswa ini bukan lagi sekadar alat praktik, tetapi sudah dapat digunakan oleh pasar,” kata Aries.
Ia menjelaskan, dari total 481 SMK jurusan otomotif di Jawa Timur, sebanyak 130 sekolah telah mengembangkan kendaraan listrik. Pengembangan tersebut meliputi kendaraan listrik baru maupun konversi kendaraan berbahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik.
Menurut Aries, keikutsertaan kendaraan listrik dalam peringatan Hardiknas bertujuan memperlihatkan kepada publik bahwa pendidikan vokasi di Jawa Timur mampu menghasilkan produk berbasis teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Anak-anak kita belajar dengan sungguh-sungguh dan mampu menghasilkan produk yang luar biasa,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah SMK bahkan telah menerima permintaan dari perusahaan untuk melakukan konversi kendaraan BBM menjadi kendaraan listrik. Kondisi itu dinilai menjadi peluang besar bagi siswa untuk terus mengembangkan inovasi di bidang otomotif dan teknologi energi terbarukan.
“Anak-anak SMK bukan hanya belajar teori, tetapi sudah mampu menghasilkan produk yang dibutuhkan dunia industri,” tegasnya.
Dalam pameran tersebut, sejumlah sekolah turut menampilkan kendaraan listrik hasil pengembangan masing-masing. Di antaranya SMK Wijaya Putra Surabaya dengan lima unit konversi sepeda motor listrik, SMK Darma Siswa 1 Sidoarjo dengan satu sepeda motor listrik dan satu buggy listrik, serta SMK Antartika 1 Sidoarjo yang menampilkan satu mobil listrik.
Selain itu, SMK Krian 2 Sidoarjo memamerkan satu sepeda motor listrik dan SMK Senopati Sedati Sidoarjo turut menghadirkan satu unit sepeda motor listrik hasil karya siswa.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jawa Timur, terdapat 481 SMK jurusan otomotif di Jawa Timur yang terdiri atas 101 SMK negeri dan 380 SMK swasta. Dari jumlah tersebut, wilayah Surabaya memiliki 37 SMK otomotif, sedangkan Sidoarjo memiliki 31 SMK otomotif. (tas)

