Ponorogo (prapanca.id) – Musim kemarau tahun 2026 di Kabupaten Ponorogo diperkirakan datang lebih awal dengan intensitas yang lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mulai memetakan wilayah rawan kekeringan dan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, menjelaskan bahwa tren curah hujan menunjukkan penurunan signifikan mulai Dasarian III April. Pola ini diprediksi berlanjut hingga awal Mei, yang secara klimatologis menandai awal musim kemarau di wilayah tersebut.
Kemarau Lebih Kering dari Tahun Sebelumnya
BPBD memperkirakan total curah hujan selama musim kemarau 2026 hanya berkisar antara 201 hingga 500 milimeter. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang masih mencapai sekitar 400 milimeter.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan mendekati pola yang terjadi pada 2024. Selain itu, durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung cukup panjang, yakni sekitar 16 hingga 19 dasarian atau setara lima hingga enam bulan.
Dengan estimasi tersebut, musim kemarau diprediksi berlangsung mulai Mei hingga September atau Oktober sebelum memasuki masa pancaroba.
Sejumlah Wilayah Masuk Zona Rawan Kekeringan
BPBD Ponorogo telah mengidentifikasi sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Di Kecamatan Slahung, beberapa desa yang masuk kategori rawan antara lain Duri, Wates, Tugurejo, Senepo, Caluk, dan Slahung.
Dari wilayah tersebut, Desa Duri dan Wates selama ini tercatat sebagai daerah yang paling awal mengajukan bantuan distribusi air bersih saat musim kemarau.
Selain Slahung, Kecamatan Sooko juga menjadi perhatian, khususnya di Desa Suru, Klepu, dan Ngadirojo. Sementara di Kecamatan Bungkal, potensi kekeringan dipetakan terjadi di Desa Belang dan Munggu.
Imbauan Hemat Air dan Jaga Lingkungan
Menghadapi potensi kemarau panjang, BPBD mengajak masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi. Penghematan penggunaan air menjadi salah satu langkah utama yang ditekankan.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk mempertahankan vegetasi dan menanam tanaman yang mampu menyimpan cadangan air.
Menurut Masun, kesiapsiagaan sejak awal menjadi kunci untuk menekan dampak kekeringan. Upaya kolektif antara masyarakat dan pemerintah dinilai penting agar risiko krisis air bersih dapat diminimalkan selama musim kemarau berlangsung.
Dengan kondisi yang diprediksi lebih kering, kewaspadaan dan pengelolaan sumber daya air secara bijak menjadi langkah strategis yang harus segera diterapkan di Ponorogo. (agu)

