Surabaya (prapanca.id) – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) memperkuat kapasitas tenaga kesehatan hewan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang digelar di Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan ini menyasar paramedik veteriner, dokter hewan, serta tenaga klinis untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menangani berbagai penyakit ternak.
Bimtek yang berlangsung selama dua hari di Gedung Pertemuan Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro tersebut menghadirkan sejumlah pakar FKH UNAIR. Fokus utama kegiatan diarahkan pada penguatan pengetahuan dan keterampilan terkait penyakit viral, parasiter, serta zoonosis yang berpotensi berdampak luas terhadap sektor peternakan dan kesehatan masyarakat.
Salah satu materi krusial disampaikan oleh Prof Dr Suwarno yang menyoroti ancaman penyakit viral pada ternak. Ia menjelaskan bahwa penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) memiliki tingkat penyebaran yang cepat dan dapat menurunkan produktivitas secara signifikan jika tidak ditangani dengan tepat. Selain itu, potensi masuknya penyakit Peste des Petits Ruminants (PPR) juga menjadi perhatian serius yang membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Prof Suwarno menekankan pentingnya deteksi dini serta respons cepat di lapangan. Ia juga menggarisbawahi peran tenaga kesehatan hewan dalam melakukan pengawasan sekaligus edukasi kepada peternak sebagai langkah pencegahan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Prof Dr Lucia Tri Suwanto mengangkat isu penyakit parasiter yang kerap luput dari perhatian. Ia menjelaskan bahwa infeksi parasit, seperti cacing dan larva, sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas, namun berdampak besar terhadap pertumbuhan dan kesehatan ternak.
Menurutnya, pengendalian penyakit parasiter memerlukan pemahaman mendalam terhadap siklus hidup parasit. Dengan demikian, strategi penanganan dapat dilakukan secara lebih tepat, termasuk melalui manajemen pemeliharaan dan pemberian perlakuan rutin pada ternak.
Aspek lain yang menjadi sorotan dalam kegiatan ini adalah zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Prof Dr Mustofa Helmi Effendi menegaskan bahwa isu ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan hewan, tetapi juga menyangkut perlindungan kesehatan publik secara luas.
Ia menjelaskan bahwa penanganan zoonosis memerlukan pendekatan terpadu lintas sektor. Dalam hal ini, tenaga kesehatan hewan memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mendeteksi potensi penularan serta mengedukasi masyarakat terkait risiko yang mungkin timbul.
Kegiatan Bimtek ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FKH UNAIR dalam mendukung peningkatan kualitas sektor peternakan di daerah. Dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia, diharapkan penanganan penyakit hewan dapat dilakukan secara lebih efektif dan terintegrasi.
Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan upaya menjaga ketahanan pangan berbasis peternakan serta mencegah dampak ekonomi akibat wabah penyakit ternak. Melalui sinergi antara akademisi dan praktisi lapangan, pengendalian penyakit di sektor peternakan diharapkan semakin optimal dan berkelanjutan. (tas)

