Surabaya (prapanca.id) – Lulusan ilmu kimia kerap diasosiasikan dengan dunia laboratorium dan riset. Namun, perjalanan karier Indryati Widjasena membuktikan bahwa disiplin ilmu tersebut juga dapat menjadi pijakan kuat untuk menembus dunia industri hingga bisnis strategis.
Alumni Program Studi Kimia Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 1986 ini mengawali ketertarikannya pada kimia sejak masa sekolah menengah. Latar belakang keluarga dengan pendidikan teknik kimia turut memperkuat pilihannya untuk mendalami bidang tersebut di jenjang perguruan tinggi.
Selepas menamatkan studi, Indryati memulai karier profesionalnya sebagai staf Quality Control di PT Vitapharm. Posisi tersebut menjadi titik awal pemahaman mendalam terhadap industri kosmetik, mulai dari formulasi produk hingga standar kualitas yang ketat.
Pengalaman tersebut kemudian berkembang melalui kiprahnya di sejumlah perusahaan, antara lain PT Nardevchem, PT Menjangan Sakti, dan PT Bsk Tijala. Dari perjalanan itu, Indryati tidak hanya memperluas kompetensi teknis, tetapi juga membangun pemahaman bisnis yang lebih komprehensif.
Memasuki fase berikutnya, ia mulai mengembangkan peran sebagai pelaku usaha. Selama lebih dari sepuluh tahun, Indryati menjabat sebagai owner sekaligus komisaris di PT Marga Dwi Kencana. Peran ini menandai transisinya dari profesional industri menjadi pengambil keputusan di level strategis.
Sejak 2024, ia terus memperluas portofolio bisnis dengan mendirikan sejumlah perusahaan di berbagai sektor. Di antaranya PT Elang Rajawali Mandiri yang bergerak di bidang layanan kesehatan, PT Intihuma Elang Perkasa di sektor properti, PT Intivesta Elang Perkasa, serta PT Elang Inti Medcos. Dalam struktur perusahaan tersebut, Indryati berperan sebagai komisaris.
Dalam perjalanannya, latar belakang pendidikan kimia tetap menjadi fondasi utama. Pengetahuan tentang bahan, proses, dan kualitas produk dinilai memberikan keunggulan kompetitif, khususnya di industri kosmetik yang menuntut presisi tinggi.
Indryati juga menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan. Perkembangan bahan baku dan inovasi produk di industri kosmetik mendorongnya untuk terus mengikuti pelatihan, termasuk dari pemasok internasional. Pendekatan ini dinilai penting agar pelaku industri tetap relevan dengan dinamika pasar global.
Selain kompetensi teknis, ia menilai kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa menjadi faktor penting dalam membangun karier. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi perlu memperkaya diri dengan keterampilan tambahan agar mampu beradaptasi di berbagai sektor.
Indryati juga menyoroti pentingnya orientasi belajar yang tidak semata-mata berfokus pada capaian akademik. Pemahaman mendalam terhadap ilmu dinilai lebih menentukan dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang kompleks.
Perjalanan kariernya menjadi gambaran bahwa lulusan sains memiliki peluang luas untuk berkembang di luar jalur konvensional. Dengan kombinasi keilmuan, pengalaman industri, serta keberanian berinovasi, bidang kimia dapat menjadi pintu masuk menuju kepemimpinan di dunia bisnis.
Kisah ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mencetak lulusan yang adaptif dan multidimensi. Tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi melalui sektor industri dan kewirausahaan. (tas)

