Surabaya (prapanca.id) – Upaya mendorong partisipasi generasi muda dalam isu keberlanjutan menjadi fokus utama dalam gelaran Asia-Europe Meeting (ASEM) Day 2026 yang diselenggarakan oleh LPMB Universitas Airlangga (UNAIR). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Asia-Europe Foundation (ASEF), yang digelar di Hall 1 Gedung Manajemen Kampus MERR-C pada Rabu (23/4/2026).
Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, khususnya komunitas lingkungan yang telah aktif di lapangan. Diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas konsep, tetapi juga pengalaman nyata dalam menggerakkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan.
Tantangan Kesadaran Lingkungan Masih Jadi Sorotan
Dalam forum tersebut, Maulina Gheananta dari komunitas 4GoodThings menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat sebagai hambatan utama dalam pengelolaan lingkungan, khususnya terkait persoalan sampah. Ia mencontohkan kondisi di kawasan padat limbah seperti Bantargebang yang mencerminkan urgensi perubahan perilaku.
Melalui pendekatan kreatif, komunitas yang ia inisiasi mencoba mengubah limbah plastik menjadi produk bernilai guna. Upaya tersebut tidak hanya berdampak pada pengurangan sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis keberlanjutan.
Menurut Maulina, edukasi menjadi kunci dalam membangun kesadaran jangka panjang. Pendekatan ke institusi pendidikan serta pemanfaatan media sosial dinilai efektif dalam menjangkau generasi muda yang menjadi target utama perubahan perilaku.
Gerakan Kolektif Jadi Kunci Perubahan Perilaku
Perspektif lain disampaikan oleh Muhammad Ikhsan Destian dari Pandawara Group. Ia menekankan bahwa gerakan lingkungan tidak cukup hanya berhenti pada aksi bersih-bersih, melainkan harus diiringi dengan perubahan pola pikir masyarakat.
Melalui berbagai program yang telah dijalankan, Pandawara Group berupaya membangun ekosistem gerakan lingkungan yang berkelanjutan. Program tersebut mencakup aksi lapangan, edukasi, hingga pengembangan komunitas.
Ikhsan menilai bahwa perbedaan cara pandang di masyarakat menjadi tantangan terbesar. Oleh karena itu, strategi komunikasi yang tepat, termasuk melalui platform digital, menjadi penting untuk memperluas jangkauan gerakan.
Konsistensi Aksi Kecil Dinilai Lebih Berdampak
Sementara itu, Arnedi Rizki Adidharma dari The Sanitizers menyoroti pentingnya konsistensi dalam gerakan lingkungan. Ia menjelaskan bahwa banyak inisiatif berawal dari langkah sederhana yang kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif.
Program rutin seperti kegiatan bersih lingkungan hingga kampanye tematik menjadi bagian dari strategi membangun kesadaran publik. Namun, ia mengakui bahwa masih terdapat stigma di masyarakat yang menganggap upaya tersebut tidak memberikan dampak signifikan.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, pemanfaatan media sosial menjadi alat penting untuk menyebarkan pesan lingkungan secara lebih luas. Konten digital dinilai mampu membangun narasi positif sekaligus mengajak partisipasi generasi muda.
Kolaborasi Global Perkuat Aksi Lokal
ASEM Day 2026 tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah kolaborasi lintas negara dalam merespons isu lingkungan global. Keterlibatan Kementerian Luar Negeri RI dan ASEF menunjukkan pentingnya sinergi antara aktor lokal dan internasional dalam mendorong keberlanjutan.
Kegiatan ini menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan lingkungan. Dengan dukungan teknologi, jejaring global, serta kesadaran kolektif, aksi kecil yang dilakukan secara konsisten dinilai mampu menciptakan perubahan yang lebih luas.
Dorongan untuk Aksi Nyata Berkelanjutan
Diskusi yang berlangsung dalam ASEM Day 2026 menegaskan bahwa solusi terhadap permasalahan lingkungan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda.
Kesadaran, edukasi, dan kolaborasi menjadi tiga pilar utama dalam membangun gerakan lingkungan yang berkelanjutan. Dari memilah sampah di rumah hingga terlibat dalam komunitas, setiap langkah dinilai memiliki kontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui forum ini, UNAIR mempertegas komitmennya dalam mendukung penguatan peran anak muda sebagai agen perubahan, sekaligus memperluas dampak gerakan lingkungan dari tingkat lokal ke global. (tas)

