Surabaya (prapanca.id) – Program budidaya ikan skala rumah tangga yang berkembang di berbagai wilayah Kota Surabaya tidak lepas dari kontribusi para tenaga teknis di lapangan. Salah satu sosok yang berperan dalam pengembangan program tersebut adalah Galuh Pramusinta, alumni Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini bertugas sebagai staf perikanan budidaya di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya.
Lulusan Program Studi Budidaya Perairan angkatan 2008 itu merupakan bagian dari generasi awal mahasiswa FPK UNAIR saat fakultas tersebut masih berada di bawah Fakultas Kedokteran Hewan. Setelah menyelesaikan pendidikan pada 2012, Galuh memulai kariernya di sektor budidaya perikanan di Banyuwangi sebelum bergabung dengan Pemerintah Kota Surabaya pada 2017.
Dalam menjalankan tugasnya, Galuh terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan berbagai program budidaya ikan yang ditujukan kepada masyarakat. Perannya menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah daerah dengan kebutuhan masyarakat, sehingga program yang dijalankan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi perikanan dan ketahanan pangan keluarga.
Menurut Galuh, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Program Studi Budidaya Perairan menjadi bekal penting dalam menjalankan pekerjaannya. Pengetahuan mengenai manajemen kualitas air, teknik budidaya, hingga pengelolaan produksi perikanan digunakan sebagai dasar dalam menyusun kegiatan serta memberikan pendampingan teknis kepada masyarakat.
Salah satu bentuk kontribusinya terlihat melalui keterlibatan dalam tim teknis budidaya yang memberikan layanan edukasi, konsultasi, serta pendampingan kepada kelompok pembudidaya ikan. Pendampingan tersebut mencakup perencanaan sistem budidaya, pengelolaan pakan, hingga penerapan teknologi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat.
Pada 2026, Galuh juga terlibat dalam program Pemerintah Kota Surabaya yang menyasar generasi muda dan masyarakat berpenghasilan rendah melalui pengembangan budidaya ikan dalam ember maupun galon, serta budidaya kepiting dengan konsep “kepiting apartemen”. Program ini bertujuan memanfaatkan ruang terbatas di kawasan permukiman untuk mendukung produksi pangan keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi.
Program tersebut menargetkan pembentukan 40 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) yang tersebar di berbagai wilayah Surabaya. Setiap kelompok beranggotakan sedikitnya sembilan orang dan didorong untuk mampu menghasilkan produk yang layak dipasarkan.
Sejumlah kelompok yang berada di wilayah Tenggilis, Rungkut, Karang Pilang, dan Ketintang dilaporkan telah mengembangkan usaha budidaya dengan memanfaatkan fasilitas umum sebagai lokasi kolam terpal. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 25 unit kolam terpal yang aktif dikelola oleh kelompok-kelompok tersebut.
Perkembangan usaha budidaya yang dijalankan masyarakat menunjukkan hasil positif. Beberapa kelompok bahkan mengalami peningkatan permintaan pasar terhadap hasil budidaya mereka. Selain mampu memasarkan produk secara mandiri, kelompok-kelompok tersebut juga mulai memproduksi benih sendiri, mengelola pakan secara mandiri, serta membiayai operasional budidaya tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah.
Melalui berbagai program pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat, Galuh Pramusinta menjadi salah satu bagian penting dalam upaya meningkatkan produktivitas perikanan rakyat sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kota Surabaya. (tas)

