Surabaya (prapanca.id) – Media sosial kembali melahirkan tren baru yang ramai diperbincangkan, kali ini terkait dunia parenting dan pengasuhan anak. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah mommaxxing, sebuah konsep yang mendorong para ibu untuk menjadi versi terbaik dari dirinya dalam menjalankan peran sebagai orang tua.
Tren ini berkembang dari konsep “looksmaxxing” yang sebelumnya populer di kalangan pengguna TikTok. Jika looksmaxxing berfokus pada upaya memaksimalkan penampilan fisik melalui olahraga, perawatan kulit, hingga gaya hidup sehat, mommaxxing menggeser fokus tersebut ke ranah pengasuhan anak dan kehidupan keluarga.
Dalam praktiknya, mommaxxing menggambarkan berbagai upaya ibu untuk menciptakan pola pengasuhan yang dianggap ideal. Mulai dari menata kamar bayi secara estetik, mengatur jadwal tidur anak secara terstruktur, memilih aktivitas edukatif terbaik, hingga merencanakan masa depan pendidikan anak sejak dini.
Konten-konten bertagar #mommaxxing, #mommymaxxing, maupun #mummymaxxing kini banyak bermunculan di berbagai platform media sosial. Sebagian besar menampilkan sosok ibu yang terlihat produktif, terorganisasi, aktif berolahraga, mampu mengurus keluarga dengan baik, sekaligus tetap menjaga penampilan.
Fenomena mommaxxing tidak hanya menawarkan inspirasi bagi para orang tua, tetapi juga membentuk gambaran baru mengenai sosok ibu ideal di era digital.
Dalam berbagai unggahan, para ibu kerap tampil dengan rumah yang rapi, anak-anak yang terawat, makanan sehat yang tersaji setiap hari, serta rutinitas keluarga yang tampak berjalan sempurna. Tak jarang, konten tersebut dikemas secara visual dengan estetika tinggi sehingga menarik perhatian jutaan pengguna media sosial.
Bagi sebagian orang, konten semacam ini dapat menjadi sumber inspirasi. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa standar yang ditampilkan terlalu tinggi dan sulit dicapai oleh banyak keluarga.
Dosen Sosiologi Florida State University, Deana A. Rohlinger, menilai media sosial telah mengubah pengalaman menjadi ibu yang sebelumnya bersifat pribadi menjadi sesuatu yang terbuka untuk publik.
Menurut Rohlinger, sejak kemunculan blog parenting hingga platform media sosial modern, peran sebagai ibu perlahan berubah menjadi bagian dari identitas yang dipertontonkan dan dinilai secara luas.
Akibatnya, banyak ibu merasa terdorong untuk menampilkan versi terbaik dirinya secara terus-menerus. Kondisi ini berpotensi memunculkan budaya perbandingan sosial yang tidak sehat.
Di balik tampilan sempurna yang sering muncul di media sosial, realitas pengasuhan anak sesungguhnya jauh lebih kompleks. Dunia parenting tidak selalu berjalan mulus dan penuh momen menyenangkan.
Rutinitas mengurus anak sering kali diwarnai kelelahan, kurang tidur, stres, hingga berbagai tantangan emosional yang tidak selalu terlihat di media sosial.
Tekanan untuk memenuhi standar “ibu sempurna” dapat memicu rasa cemas, perasaan tidak cukup baik, hingga kelelahan mental atau burnout. Banyak ibu akhirnya merasa gagal ketika kehidupan sehari-hari mereka tidak sesuai dengan gambaran ideal yang beredar di internet.
Fenomena ini juga diakui oleh seorang momfluencer Instagram yang dikenal dengan nama MumBum. Dalam pengalamannya yang dikutip oleh Grazie Daily, ia mengaku sempat terjebak dalam upaya menjadi ibu ideal sesuai standar media sosial.
Ia menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk membeli perlengkapan bayi premium, mengikuti berbagai kelas khusus anak, melakukan riset mendalam tentang pola tidur dan penyapihan, hingga menjaga penampilan fisik melalui program kebugaran.
Meski tampak berhasil dari luar, tekanan untuk terus tampil sempurna justru membuatnya mengalami kelelahan fisik dan mental. Peran sebagai ibu yang seharusnya menjadi perjalanan penuh pembelajaran berubah menjadi perlombaan pencapaian tanpa akhir.
Selain berdampak pada kesehatan mental ibu, tren mommaxxing juga memunculkan kritik terkait tekanan yang mungkin dirasakan anak.
Ketika standar keberhasilan anak menjadi bagian dari citra yang ditampilkan orang tua di media sosial, muncul risiko anak tumbuh dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Mereka dapat merasa harus selalu berprestasi demi memenuhi harapan lingkungan.
Di sisi lain, fenomena mommaxxing dinilai semakin menguatkan anggapan bahwa seluruh tanggung jawab pengasuhan berada di tangan ibu. Padahal, pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama yang idealnya melibatkan peran aktif ayah dan seluruh anggota keluarga.
Para pakar menilai tidak ada yang salah dengan keinginan orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun, penting untuk menyadari bahwa setiap keluarga memiliki kondisi, sumber daya, dan tantangan yang berbeda.
Alih-alih menjadikan media sosial sebagai tolok ukur keberhasilan parenting, para orang tua disarankan mengambil inspirasi secukupnya tanpa harus membandingkan kehidupan nyata dengan potongan-potongan momen yang ditampilkan secara daring.
Pada akhirnya, menjadi orang tua bukan tentang tampil sempurna di depan kamera, melainkan membangun hubungan yang sehat, hangat, dan penuh kasih sayang dengan anak dalam kehidupan sehari-hari. (ant)

