Surabaya (prapanca.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyambut hangat kedatangan rombongan Bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace (IWPF) 2026 di Lobby Balai Kota Surabaya, Jumat (15/5/2026). Kehadiran para bhikkhu dari sejumlah negara ASEAN tersebut menjadi simbol kuat persaudaraan lintas agama, budaya, dan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Rombongan yang terdiri atas bhikkhu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia itu tiba di Balai Kota Surabaya setelah berjalan kaki dari kawasan Panjang Jiwo. Kegiatan spiritual tersebut menjadi bagian dari perjalanan damai menuju Candi Borobudur dalam rangka menyambut perayaan Hari Raya Waisak Nasional 2026.
Mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Staf Ahli Wali Kota Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Dedik Irianto, menyampaikan apresiasi atas kedatangan para bhikkhu yang dinilai membawa pesan kemanusiaan dan toleransi bagi masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kota Surabaya dan seluruh warga Kota Surabaya, saya mengucapkan selamat datang kepada para Bhikkhu dan seluruh peserta perjalanan damai yang telah menempuh perjalanan panjang melintasi berbagai daerah di Indonesia,” ujar Dedik.
Menurutnya, perjalanan tersebut bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang sarat nilai kesederhanaan, kedisiplinan, ketekunan, serta cinta kasih terhadap sesama manusia.
Dedik menilai kehadiran rombongan Walk for Peace 2026 menjadi kehormatan bagi Kota Surabaya. Ia mengatakan bahwa pesan perdamaian dan persaudaraan yang dibawa para bhikkhu sejalan dengan semangat kebhinekaan yang selama ini dijaga masyarakat Kota Pahlawan.
“Kehadiran saudara-saudara sekalian membawa pesan yang sangat mulia bagi masyarakat, yakni tentang perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan,” katanya.
Ia menambahkan, Surabaya merupakan kota yang tumbuh melalui semangat gotong royong dan keberagaman. Karena itu, menjaga harmoni sosial dan persaudaraan antarumat beragama menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dedik berharap kegiatan Indonesia Walk for Peace dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga toleransi di tengah perbedaan latar belakang budaya, agama, maupun suku bangsa.
“Perjalanan damai ini diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus merawat nilai toleransi dan memperkuat harmoni sosial,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan tersebut, mulai dari panitia, relawan, aparat keamanan, hingga masyarakat yang turut memberikan sambutan hangat sepanjang perjalanan.
“Semoga perjalanan damai ini berjalan lancar, aman, dan membawa manfaat bagi persatuan serta perdamaian dunia,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace Jawa Timur, Irwan Pontoh, menjelaskan bahwa rombongan tahun ini terdiri atas 57 bhikkhu. Rinciannya, sebanyak 43 bhikkhu berasal dari Thailand, empat bhikkhu dari Malaysia, tiga bhikkhu dari Laos, dan tujuh bhikkhu dari Indonesia.
Perjalanan tersebut dipimpin langsung oleh Bhante Phanarin Sumetho asal Thailand. Irwan mengatakan para bhikkhu berjalan kaki dari kawasan Panjang Jiwo menuju Balai Kota Surabaya dengan waktu tempuh sekitar satu jam 15 menit.
“Kami cukup terkejut sekaligus kagum. Rute yang biasanya ditempuh menggunakan kendaraan, pagi ini berhasil dilalui para bhikkhu dengan berjalan kaki secara lancar dan penuh semangat,” ungkap Irwan.
Ia menjelaskan bahwa rombongan bhikkhu telah tiba di Denpasar sejak 7 Mei 2026. Selanjutnya, mereka akan melintasi 10 kabupaten dan kota di Jawa Timur selama 11 hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan Candi Borobudur.
Rencananya, para bhikkhu akan tiba di Borobudur pada 28 Mei 2026 untuk mengikuti rangkaian persiapan Hari Raya Waisak Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Mei mendatang.
Irwan juga mengungkapkan apresiasinya terhadap sambutan masyarakat Indonesia selama perjalanan berlangsung. Menurutnya, dukungan datang dari berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang agama maupun sosial.
“Anak-anak, pedagang kecil, tokoh agama, hingga masyarakat lintas iman memberikan dukungan luar biasa kepada para bhikkhu selama perjalanan berlangsung,” ujarnya.
Menurut Irwan, sambutan tersebut menjadi gambaran nyata tentang kuatnya nilai toleransi dan persaudaraan masyarakat Indonesia. Dukungan itu juga menjadi sumber semangat bagi para bhikkhu untuk terus melanjutkan perjalanan menuju Borobudur.
Ia turut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Surabaya, aparat TNI-Polri, serta seluruh masyarakat lintas agama yang telah membantu kelancaran kegiatan Walk for Peace 2026.
Di sisi lain, Ketua Rombongan Bhikkhu, Bhante Phanarin Sumetho dari Thailand, mengatakan bahwa kegiatan Walk for Peace bertujuan memperkuat perdamaian dan hubungan persaudaraan antarumat beragama maupun antarnegara di kawasan ASEAN.
“Harapannya, melalui kegiatan ini dapat terjalin persatuan, kasih sayang, dan persaudaraan sehingga dunia menjadi tempat yang lebih damai dan nyaman untuk ditinggali,” kata Bhante Phanarin.
Ia menegaskan bahwa para bhikkhu tidak melakukan perjalanan tersebut untuk kepentingan duniawi, melainkan untuk menyebarkan nilai kebajikan, cinta kasih, dan kepedulian terhadap sesama manusia.
Bhante Phanarin mengaku terharu dengan sambutan masyarakat Indonesia yang dinilainya sangat hangat. Bahkan, menurutnya, dukungan datang dari masyarakat lintas agama yang turut membantu kebutuhan para bhikkhu selama perjalanan.
“Kebahagiaan itu terlihat jelas sepanjang perjalanan. Sejak awal, masyarakat lintas agama turut hadir memberikan sambutan hangat dan bantuan kepada para bhikkhu,” ujarnya.
Dalam perjalanan sejauh 40 hingga 50 kilometer setiap hari, para bhikkhu kerap menghadapi rasa lelah dan kondisi fisik yang menurun. Namun, dukungan masyarakat menjadi kekuatan besar bagi mereka untuk terus melanjutkan perjalanan damai menuju Borobudur.
Melalui kegiatan tersebut, Bhante Phanarin juga mengajak masyarakat untuk memahami bahwa kehidupan duniawi bersifat sementara dan yang akan dikenang hanyalah kebaikan yang diberikan kepada sesama.
“Ketika manusia meninggal dunia, harta dan jabatan tidak dapat dibawa pergi. Yang tersisa hanyalah kebaikan dan jasa yang dilakukan selama hidup,” tuturnya.
Menutup kegiatan, Bhante Phanarin menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat yang telah memberikan dukungan selama perjalanan Walk for Peace 2026 berlangsung.
“Atas nama pimpinan Indonesia Walk for Peace, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat lintas agama, pemerintah, dan semua pihak yang telah memberikan sambutan hangat serta dukungan selama perjalanan ini berlangsung,” pungkasnya. (tas)

