Surabaya (prapanca.id) – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menambah jajaran akademisi bergelar guru besar melalui pengukuhan Prof Dr Mahmudah Ir M Kes sebagai Guru Besar bidang Biostatistika Multivariat. Dalam pengukuhan yang digelar di Surabaya, Prof Mahmudah menyoroti pentingnya transformasi sistem kesehatan nasional melalui pendekatan Precision Public Health berbasis integrasi data multidimensional.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof Mahmudah menegaskan bahwa tantangan kesehatan masyarakat saat ini semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik, terukur, serta berbasis data. Menurutnya, perubahan pola penyakit akibat faktor gaya hidup, lingkungan, dan perkembangan sosial menuntut sistem kesehatan yang lebih adaptif dibanding pendekatan konvensional sebelumnya.
Ia menjelaskan, Indonesia saat ini menghadapi peningkatan kasus penyakit tidak menular yang berkaitan dengan perubahan pola hidup masyarakat. Kondisi tersebut dinilai tidak lagi dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan umum yang diterapkan secara seragam di seluruh wilayah.
“Pendekatan kesehatan masyarakat saat ini perlu bergerak menuju Precision Public Health, yakni sistem yang memungkinkan intervensi dilakukan secara lebih tepat berdasarkan karakteristik wilayah, populasi, maupun faktor risiko yang dimiliki masyarakat,” ujar Prof Mahmudah.
Menurutnya, pemanfaatan data multidimensional menjadi elemen penting dalam pengembangan kebijakan kesehatan yang lebih presisi. Data tersebut tidak hanya berasal dari fasilitas kesehatan, tetapi juga dapat memanfaatkan data lingkungan, demografi, hingga teknologi pemantauan berbasis satelit.
Ia mencontohkan penggunaan data lingkungan seperti tingkat kelembapan udara dan perubahan kondisi cuaca yang dapat digunakan untuk memprediksi potensi penyebaran penyakit di suatu wilayah. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah dapat melakukan langkah pencegahan secara lebih cepat dan efisien.
“Kebijakan kesehatan tidak bisa lagi dipukul rata. Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda sehingga intervensinya juga harus disesuaikan dengan data dan kondisi lokal masing-masing,” katanya.
Selain membahas pentingnya integrasi data, Prof Mahmudah juga menekankan perlunya penguatan kualitas sumber daya manusia di sektor kesehatan. Menurutnya, transformasi sistem kesehatan berbasis data tidak akan berjalan optimal apabila tidak didukung tenaga profesional yang mampu melakukan analisis data secara tepat.
Ia menyebutkan bahwa integrasi data nasional perlu dibangun secara berkelanjutan dan melibatkan kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya institusi kesehatan, tetapi juga lembaga pendidikan, pemerintah daerah, peneliti, hingga sektor teknologi informasi.
“Data yang terintegrasi harus diimbangi dengan SDM yang kompeten agar program kesehatan dapat berjalan lebih konsisten, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Mahmudah juga membagikan perjalanan akademiknya hingga meraih gelar guru besar. Ia mengaku sempat menghadapi tantangan besar setelah kehilangan suaminya pada 2018 dan harus menjalani peran sebagai orang tua tunggal sambil tetap melanjutkan pengabdian di dunia akademik.
Meski menghadapi situasi yang tidak mudah, ia tetap berkomitmen menyelesaikan berbagai tanggung jawab pendidikan dan penelitian hingga akhirnya berhasil mencapai jenjang akademik tertinggi.
“Dengan diperolehnya gelar ini, saya berharap dapat terus menjadi pribadi yang lebih bijak dan memberikan manfaat yang lebih luas, baik di bidang pendidikan maupun kesehatan masyarakat,” ungkapnya.
Pengukuhan Prof Mahmudah sebagai Guru Besar bidang Biostatistika Multivariat menambah kontribusi UNAIR dalam pengembangan ilmu kesehatan berbasis data dan riset. Gagasan mengenai Precision Public Health yang disampaikannya diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam penguatan sistem kesehatan nasional di tengah perkembangan tantangan kesehatan global yang terus berubah.
Pendekatan berbasis data tersebut dinilai semakin relevan untuk mendukung kebijakan kesehatan yang lebih efektif, terutama dalam menghadapi dinamika penyakit, perubahan lingkungan, serta kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat yang semakin beragam. (tas)

