Surabaya (prapanca.id) – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, berlangsung berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Upacara yang dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ini menghadirkan inovasi melalui keterlibatan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) lintas jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
Format ini menjadi yang pertama diterapkan di tingkat provinsi di Indonesia. Bahkan, posisi komandan barisan dipercayakan kepada siswa sekolah dasar, menandai kepercayaan terhadap kapasitas generasi muda sejak dini. Khofifah menilai hal tersebut sebagai indikator positif perkembangan kualitas pendidikan sekaligus kepercayaan diri siswa di Jawa Timur.
Selain inovasi dalam upacara, perhatian juga tertuju pada penampilan siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 15 Mojokerto yang mampu menyampaikan pidato dalam lima bahasa, yakni Indonesia, Inggris, Jepang, Jerman, dan Arab. Kemampuan tersebut dinilai mencerminkan kesiapan siswa Jawa Timur dalam menghadapi persaingan global.
Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa momentum Hardiknas menjadi pengingat pentingnya memperkuat sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kesiapan masa depan. Ia menekankan bahwa Jawa Timur terus berupaya mempertahankan posisinya sebagai barometer pendidikan nasional melalui program “Jatim Cerdas”.
Program tersebut diarahkan pada pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan karakter siswa. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan inspiratif sebagai ruang tumbuh yang optimal bagi peserta didik.
Di sisi lain, pendekatan pendidikan berbasis kesejahteraan psikologis juga menjadi perhatian. Melalui penguatan layanan bimbingan konseling, sekolah diharapkan mampu mendeteksi dini tekanan mental siswa sekaligus membangun ketahanan emosional mereka.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan turut diimbangi dengan kebijakan pengendalian penggunaan gadget selama proses belajar. Langkah ini bertujuan memperkuat interaksi sosial, meningkatkan fokus belajar, serta mendorong budaya diskusi di dalam kelas.
Khofifah juga menyoroti pentingnya inovasi dalam pendidikan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Berbagai program seperti Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP), East Java Innovative Education Summit (EJIES), Double Track SMA, hingga pengembangan kendaraan listrik di SMK menjadi bagian dari strategi peningkatan kompetensi siswa.
Capaian Jawa Timur dalam bidang pendidikan pun menunjukkan tren positif. Selama tujuh tahun berturut-turut, provinsi ini mencatat jumlah terbanyak siswa diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi. Selain itu, Jawa Timur juga konsisten meraih juara dalam berbagai kompetisi nasional seperti Lomba Kompetensi Siswa (LKS), FLS3N, dan O2SN.
Menurut Khofifah, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga orang tua. Ia menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menciptakan pendidikan yang inklusif dan berdampak.
Pada kesempatan yang sama, sejumlah tokoh dan institusi juga menerima penghargaan Jer Basuki Mawa Beya (JBMB) sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam pengembangan pendidikan di Jawa Timur.
Menutup peringatan Hardiknas 2026, Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat partisipasi bersama dalam mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua. Ia optimistis Jawa Timur akan terus menjadi pusat lahirnya talenta unggul yang mampu bersaing di tingkat global serta berkontribusi menuju Indonesia Emas 2045. (tas)

