Surabaya (prapanca.id) – Pernahkah Anda merasa menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat santai, chill, dan seolah tidak pernah mempermasalahkan apa pun? Awalnya, sikap ini mungkin terasa menyenangkan karena minim konflik. Namun, seiring berjalannya waktu, Anda mungkin mulai merasa lelah karena harus menggerakkan segalanya sendirian.
Kondisi ini sering disebut sebagai fenomena pasangan low-effort atau minim usaha. Dalam psikologi populer, perilaku ini diibaratkan melalui “Plastic Bag Theory” atau Teori Kantong Plastik.
Melansir dari laman Self, pasangan low-effort diibaratkan seperti kantong plastik yang hanyut di sungai. Mereka tidak memiliki inisiatif, tidak punya “tulang punggung” untuk memperjuangkan sesuatu, dan hanya mengikuti arus ke mana pun Anda membawa mereka.
Alih-alih menciptakan keharmonisan, sikap “setuju-setuju saja” ini justru memaksa salah satu pihak memikul seluruh beban mental dalam hubungan. Mereka hanya melakukan bare minimum—standar paling rendah dalam sebuah komitmen asmara.
Berdasarkan rangkuman pendapat ahli dari HuffPost dan Cottonwood Psychology, berikut adalah ciri utama pasangan low-effort yang perlu diwaspadai:
1. Rencana yang Selalu Mengambang: Mereka mungkin mengajak bertemu, namun tidak pernah menentukan waktu atau lokasi secara spesifik. Ketidakjelasan ini memaksa Anda untuk selalu fleksibel mengikuti ketidaksiapan mereka, yang pada akhirnya menciptakan ketidakseimbangan kuasa.
2. Anda Menjadi “Manajer” Emosional: Semua kerja emosional dilakukan sendirian. Kitalah yang selalu memulai percakapan serius, menanyakan kabar, hingga berusaha memperbaiki suasana setelah terjadi ketegangan. Pasangan tipe ini cenderung merespons dengan kalimat pendek dan kurang menunjukkan rasa ingin tahu terhadap kehidupan kita.
3. Pesona Hanya di Permukaan: Di awal kencan, mereka mungkin terlihat sangat manis dan memperhatikan detail kecil di media sosial. Namun, kehangatan ini biasanya tidak bertahan lama. Mereka sering kali “lupa” pada momen penting atau sengaja menghindari diskusi mengenai masa depan bersama.
4. Menghindari Konflik Secara Berlebihan: Bagi pasangan minim usaha, komunikasi adalah prioritas paling rendah. Saat terjadi masalah, mereka lebih memilih bungkam atau menghilang dengan alasan “butuh waktu sendiri,” meninggalkan Anda untuk menangani kekacauan emosional sendirian.
5. Rasa Hormat Berdasarkan Suasana Hati: Rasa hormat mereka tidak konsisten. Mereka bisa bersikap sangat manis saat menginginkan sesuatu, namun berubah menjadi sinis atau meremehkan saat merasa bosan.
Menjalani relasi dengan sosok low-effort menguras energi karena adanya beban mental yang tidak setara. Karena mereka tidak mau mengeluarkan pendapat, Anda dipaksa untuk memiliki andil besar dalam merencanakan setiap jengkal kehidupan mereka.
Pakar psikologi menyebutkan bahwa perilaku ini biasanya berakar dari rasa tidak aman, ketakutan akan keintiman, atau pola asuh di masa lalu. Namun, memahami alasan tersebut bukan berarti Anda harus menerima kondisi yang timpang secara terus-menerus.
Hubungan yang sehat seharusnya tumbuh dari usaha bersama. Munculnya perasaan diombang-ambingkan oleh ketidakpastian bisa menjadi sinyal bagi Anda untuk mengevaluasi kembali, apakah pasangan Anda benar-benar layak untuk diperjuangkan. Ingatlah, Anda berhak mendapatkan seseorang yang memilih untuk berusaha setiap harinya, bukan sekadar mengikuti arus. (ant)

