Surabaya (prapanca.id) — Upaya memperkuat praktik akuakultur berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara terus didorong melalui kolaborasi lintas negara. Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi tuan rumah penyelenggaraan lokakarya internasional bertajuk Asian Fish Welfare Network Project – Improving Farmed Fish Welfare in Asia yang digelar di Kampus MERR-C, Surabaya, Selasa (21/4).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara FPK UNAIR, Institut Akuakultur University of Stirling, serta Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Jakarta. Lokakarya tersebut mengangkat tema besar Fish Welfare for Farmer Welfare, yang menekankan keterkaitan antara kesejahteraan ikan dengan kesejahteraan pelaku usaha perikanan.
Program ini didukung pendanaan dari Coefficient Giving dan melibatkan tiga negara utama produsen akuakultur di Asia, yakni Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Fokus utamanya adalah menghasilkan solusi aplikatif untuk meningkatkan kesejahteraan hewan air sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan manusia.
Wakil Dekan III FPK UNAIR, Annur Ahadi Abdillah, menyampaikan bahwa penyelenggaraan lokakarya ini menjadi momentum penting bagi Indonesia. Ia menilai kepercayaan internasional kepada UNAIR sebagai tuan rumah menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam pengembangan sektor akuakultur global.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi konkret untuk industri perikanan nasional. Ia juga menekankan bahwa ini merupakan kali pertama Indonesia menjadi lokasi pelaksanaan lokakarya tersebut, setelah sebelumnya digelar di Vietnam dan Thailand.
Sementara itu, I Nyoman Suyasa dari Politeknik AUP Jakarta menyoroti pentingnya pendekatan kesejahteraan ikan sebagai bagian dari strategi bisnis berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa peningkatan standar kesejahteraan ikan tidak hanya berdampak pada aspek etis, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap kualitas produksi dan efisiensi industri.
Dalam forum tersebut, turut hadir tim peneliti dari University of Stirling, termasuk Dave Little, Simao Zacarias, dan Tanya Kay, yang berbagi pengalaman serta praktik terbaik terkait pengelolaan akuakultur berbasis kesejahteraan hewan.
Sebagai salah satu produsen akuakultur terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki peran penting dalam mengintegrasikan prinsip kesejahteraan ikan ke dalam seluruh rantai produksi. Hal ini mencakup aspek budidaya, distribusi, hingga konsumsi.
Melalui lokakarya ini, para pemangku kepentingan berharap tercipta sinergi antara akademisi, praktisi, dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan serta praktik terbaik yang dapat diterapkan secara luas. Pendekatan kolaboratif ini diyakini mampu memperkuat daya saing industri perikanan nasional di tingkat global.
Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang terbentuknya jaringan kerja sama internasional yang lebih luas, sekaligus mendorong transfer teknologi dan pengetahuan di bidang akuakultur modern.
Dengan semakin meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan, kesejahteraan ikan kini tidak lagi dipandang sebagai isu sekunder, melainkan bagian integral dari masa depan industri perikanan yang lebih bertanggung jawab dan berdaya saing tinggi. (tas)

