Surabaya (prapanca.id) – Perjalanan akademik tidak selalu berjalan lurus tanpa hambatan. Hal itu tercermin dari kisah Anggita, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR), yang berhasil menorehkan prestasi gemilang setelah melewati fase keraguan dalam studinya.
Lulusan penerima beasiswa KIP-Kuliah tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu tujuh semester dengan predikat cumlaude dan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,93. Capaian ini menjadi bukti bahwa proses panjang dan penuh dinamika dapat berujung pada hasil yang optimal.
Dalam perjalanannya, Anggita tidak selalu berada dalam kondisi percaya diri. Ia mengaku sempat mengalami kebimbangan terkait arah dan relevansi bidang ilmu yang ia tekuni. Namun, kondisi tersebut justru menjadi titik refleksi yang mendorongnya untuk keluar dari zona nyaman dan mulai mendalami dunia riset secara lebih serius.
Dukungan lingkungan akademik menjadi faktor penting dalam proses tersebut. Anggita menyebut peran dosen serta fasilitas kampus sangat membantu dalam membangun kembali motivasi belajarnya. Ia kemudian aktif mengikuti berbagai kegiatan riset dan eksplorasi akademik di luar ruang kelas, yang pada akhirnya memperkaya perspektif keilmuannya.
Transformasi tersebut membawa hasil nyata. Rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Madyan, memberikan apresiasi atas capaian Anggita dengan menawarkan kesempatan sebagai asisten dosen di program studi Ilmu Sejarah. Tidak hanya itu, ia juga memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di fakultas yang sama.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa keberanian mengambil langkah baru dapat menjadi titik balik dalam perjalanan akademik seseorang. Anggita menilai bahwa mahasiswa perlu aktif mencari peluang dan tidak terpaku pada rutinitas perkuliahan semata. Menurutnya, keterlibatan dalam riset menjadi salah satu cara efektif untuk menemukan arah dan memperdalam pemahaman keilmuan.
Ke depan, ia berencana memanfaatkan waktu untuk menyusun rencana penelitian yang lebih matang sebelum memulai studi lanjut. Fokus tersebut diharapkan dapat menghasilkan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sejarah.
Kisah Anggita menjadi gambaran bahwa keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga ketekunan, keberanian, serta kemampuan beradaptasi terhadap tantangan. Di tengah dinamika pendidikan tinggi, pengalaman ini sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkembang dan menemukan potensi terbaik dalam dirinya. (tas)

