Surabaya (prapanca.id) – Hari Raya Idulfitri menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan keluarga. Salah satu tradisi yang masih kuat dijaga di masyarakat, khususnya di Jawa, adalah sungkeman.
Sungkeman bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan kepada orang tua dan sesepuh melalui tutur kata yang sopan, halus, dan penuh makna. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan menggunakan bahasa Jawa krama alus sebagai wujud kerendahan hati.
Dalam praktiknya, sungkeman tidak hanya menjadi ajang meminta maaf, tetapi juga sarana menyampaikan doa serta harapan baik kepada orang yang lebih tua.
Penggunaan bahasa Jawa halus atau krama alus menjadi elemen penting dalam sungkeman. Pilihan kata yang tepat mencerminkan kesopanan, penghormatan, serta ketulusan dalam menyampaikan permohonan maaf.
Selain itu, ucapan sungkeman biasanya juga disertai dengan ungkapan selamat Idulfitri sebagai bentuk kebahagiaan setelah menjalani ibadah Ramadan.
Karena itu, memahami susunan kalimat yang baik menjadi penting agar pesan yang disampaikan terasa lebih menyentuh dan bermakna.
Berikut beberapa contoh ucapan sungkeman Lebaran dalam bahasa Jawa halus yang bisa digunakan kepada orang tua, keluarga, maupun orang yang dihormati:
- Sugeng Riyadi Idulfitri 1447 H, minal aidin wal faizin. Kula nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kula, lahir lan batin.
- Sugeng Riyadi, mugi rahayu lan berkah tansah ngancani panjenengan. Kula nyuwun pangapunten sedaya lepat kula ingkang kasengaja utawi boten.
- Sugeng Riyadi Idulfitri, mugi kita sedaya pinaringan tentrem lan kabegjan. Kula nyuwun pangapunten lahir lan batin.
- Sugeng Riyadi, minal aidin wal faizin. Kula nyuwun ngapunten sedaya kalepatan kula lan mugi panjenengan kersa paring pangapunten.
- Sugeng Riyadi Idulfitri, mugi berkah Gusti tansah maringi kabecikan. Kula nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kula.
Tradisi sungkeman memiliki nilai yang lebih dalam dibanding sekadar kebiasaan tahunan. Di dalamnya terdapat makna introspeksi diri, kerendahan hati, serta keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap relevan karena menjadi pengingat akan pentingnya menghormati orang tua dan menjaga nilai-nilai budaya.
Sungkeman saat Lebaran juga menjadi momen emosional yang mempererat ikatan keluarga. Dalam suasana penuh kehangatan, setiap ucapan yang disampaikan membawa makna mendalam, baik sebagai permintaan maaf maupun doa.
Dengan memilih kata-kata yang tepat dan tulus, sungkeman dapat menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan serta memperkuat kebersamaan.
Pada akhirnya, esensi Idulfitri tidak hanya terletak pada perayaan, tetapi juga pada proses saling memaafkan dan kembali ke fitrah.
Tradisi sungkeman menjadi salah satu cara untuk menjaga nilai tersebut tetap hidup di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat hubungan antargenerasi dalam keluarga. (ant)

