Surabaya (prapanca.id) – Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya dipandang sebagai ketegangan militer semata, tetapi juga memiliki implikasi besar terhadap stabilitas ekonomi global. Dari perspektif ekonomi politik internasional, konflik tersebut mencerminkan perebutan pengaruh terhadap kawasan strategis yang berperan penting dalam distribusi energi dunia dan jalur perdagangan internasional.
Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR), Probo Darono Yakti, S.Hub.Int., M.Hub.Int., menjelaskan bahwa posisi geografis Iran yang berada di kawasan Teluk menjadikannya salah satu aktor kunci dalam sistem ekonomi global. Kawasan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan distribusi energi serta jalur logistik perdagangan internasional.
Menurutnya, setiap eskalasi konflik yang melibatkan Iran hampir selalu berdampak pada dinamika ekonomi global. Hal ini karena stabilitas kawasan Teluk sangat berkaitan dengan keamanan pasokan energi dunia.
“Setiap eskalasi konflik di Iran hampir selalu berimplikasi pada ekonomi politik global. Negara yang mampu mengamankan pasokan energi dan mengendalikan rute logistik akan memiliki leverage ekonomi yang lebih besar,” ujar Probo, Rabu (11/3/2026).
Salah satu titik strategis dalam konflik tersebut adalah Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi distribusi energi global. Jalur pelayaran ini menjadi penghubung utama ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah menuju pasar dunia.
Data perdagangan energi global menunjukkan bahwa sekitar 20 juta barel minyak per hari atau setara dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Selain itu, hampir seperlima perdagangan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dunia juga melalui jalur tersebut.
Karena perannya yang sangat strategis, ketegangan di kawasan ini berpotensi memicu gangguan serius terhadap rantai pasok energi global. Probo menilai konflik Iran tidak bisa dipandang hanya sebagai konflik regional, melainkan memiliki dampak sistemik terhadap perekonomian dunia.
Selain itu, eskalasi konflik juga memengaruhi pasar energi global yang sangat sensitif terhadap risiko geopolitik. Menurutnya, harga energi tidak hanya ditentukan oleh pasokan riil, tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi risiko pasar.
Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan akibat berbagai faktor seperti gangguan terhadap kapal tanker, perlambatan produksi, hingga kekhawatiran terhadap kemungkinan pembatasan akses di Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi tersebut kemudian berdampak pada berbagai sektor ekonomi, mulai dari biaya listrik, industri pelayaran, hingga harga pangan. Negara-negara di kawasan Asia juga dapat merasakan dampaknya melalui peningkatan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan bahan baku industri petrokimia.
Bagi Indonesia, situasi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri karena ketergantungan terhadap impor energi masih cukup tinggi. Gangguan pada jalur distribusi energi global berpotensi meningkatkan harga minyak mentah serta berbagai produk turunan energi.
“Ketika jalur energi terganggu, dampaknya tidak hanya pada minyak mentah, tetapi juga LPG, fuel oil, hingga bahan baku industri lainnya,” jelas Probo.
Selain sektor energi, konflik geopolitik juga memicu pergeseran pada pasar keuangan global. Dalam situasi ketidakpastian, investor biasanya memindahkan modal ke aset yang dianggap lebih aman sehingga dapat memicu volatilitas pasar serta inflasi impor di berbagai negara berkembang.
Dalam jangka menengah, konflik ini juga berpotensi mendorong perubahan peta kerja sama energi global. Negara-negara konsumen besar kemungkinan akan mempercepat diversifikasi sumber energi serta memperkuat kontrak jangka panjang dengan pemasok alternatif.
Probo menilai negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan terhadap dinamika tersebut karena keterbatasan ruang fiskal serta ketergantungan tinggi pada impor energi. Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat strategi ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi serta percepatan transisi energi.
“Keamanan energi, keamanan maritim, dan stabilitas ekonomi global kini saling terhubung. Karena itu, respons terhadap konflik geopolitik harus dilihat tidak hanya dari sisi militer atau diplomasi, tetapi juga dari perspektif geoekonomi,” pungkasnya. (tas)

