Surabaya (prapanca.id) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memastikan pasokan listrik di Jawa Timur dalam kondisi aman dan mencukupi untuk menghadapi kebutuhan selama bulan suci Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah. Kepastian tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) serta Unit Pelaksana Pengatur Beban Jawa Timur di Sidoarjo, Jumat (20/2).
Berdasarkan data PLN, beban puncak tertinggi di Jawa Timur tercatat sebesar 2.036 MW pada subsistem Krian-Gresik. Sementara Daya Mampu Netto (DMN) mencapai 2.638 MW, sehingga tersedia cadangan daya sekitar 602 MW atau setara 22 persen. “Secara kapasitas daya, Jawa Timur dalam kondisi aman dan sangat mencukupi untuk kebutuhan Ramadhan hingga Idul Fitri,” ujar Emil.
Dalam masa Siaga Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI), PLN UIT JBM menyiapkan 22 posko dengan dukungan 1.207 personel di wilayah Jawa Timur dan Bali. Sistem kelistrikan tersebut ditopang oleh 173 gardu induk, 394 unit trafo dengan kapasitas total 29.195 MVA, serta jaringan transmisi sepanjang 8.329,12 kilometer sirkuit.
Meski cadangan daya dinilai memadai, Emil menekankan pentingnya penguatan jaringan transmisi, terutama di titik-titik dengan tingkat beban tinggi. Ia mengingatkan bahwa stabilitas sistem harus dijaga secara real time, mengingat tren beban listrik selama Ramadhan dan Idul Fitri dalam beberapa tahun terakhir justru menurun hingga sekitar 30 persen dibandingkan hari normal.
“Listrik harus selalu seimbang. Ketika beban turun drastis tanpa penyesuaian, tegangan bisa meningkat dan berisiko bagi sistem,” tegasnya.
Emil juga mengapresiasi rencana pembangunan Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITET) di kawasan Waru untuk memperkuat sistem kelistrikan metropolitan Gerbangkertosusila yang selama ini bertumpu pada Krian dan Gresik. Menurutnya, pengembangan tersebut krusial untuk mengurangi potensi gangguan meluas akibat kepadatan jalur distribusi.
Selain penguatan infrastruktur, ia mendorong optimalisasi jaringan melalui metode uprating guna meningkatkan kapasitas tanpa perlu membuka jalur baru di kawasan padat penduduk. Emil turut menekankan percepatan transisi energi hijau di Jawa Timur, termasuk pengembangan panas bumi sekitar 34 MW serta rencana pembangkit listrik tenaga surya di Pasuruan dan Banyuwangi.
“Energi hijau bukan hanya isu lingkungan, tetapi kebutuhan industri dan daya saing daerah,” pungkasnya. (tas)

