Surabaya (prapanca.id) – Bulan suci Ramadan tidak hanya identik dengan peningkatan aktivitas ibadah, tetapi juga lonjakan perputaran ekonomi umat. Peningkatan zakat, infak, sedekah, serta konsumsi rumah tangga menjadikan masjid berada pada posisi strategis sebagai pusat pemberdayaan berbasis komunitas.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Tika Widiastuti, SE, MSi, menilai momentum Ramadan perlu dioptimalkan untuk mentransformasi peran masjid agar lebih produktif dan berkelanjutan. Menurutnya, peningkatan religiusitas selama Ramadan harus dibarengi penguatan literasi ekonomi syariah di kalangan jamaah.
“Sejak masa Rasulullah, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat aktivitas sosial dan ekonomi. Spirit itu perlu dihidupkan kembali agar masjid mampu berkontribusi lebih luas bagi kesejahteraan umat,” ujarnya.
Prof Tika menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi selama Ramadan merupakan fenomena yang wajar. Namun tanpa pemahaman yang tepat, lonjakan tersebut berpotensi mendorong perilaku konsumtif yang kurang selaras dengan prinsip syariah. Karena itu, masjid dapat mengambil peran sebagai ruang edukasi pengelolaan keuangan, etika konsumsi, hingga pemanfaatan dana sosial secara produktif.
Ia menekankan pentingnya pelibatan generasi muda, termasuk Gen Z dan milenial, dalam program literasi ekonomi syariah. Menurutnya, keberlanjutan peran masjid sangat ditentukan oleh kemampuan beradaptasi dengan dinamika sosial dan ekonomi.
Dalam aspek pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), Prof Tika mengingatkan perlunya tata kelola profesional. Tidak semua masjid memiliki kapasitas manajerial memadai, sehingga kolaborasi dengan lembaga amil resmi menjadi solusi untuk memastikan akuntabilitas dan distribusi tepat sasaran.
“Masjid bisa menjadi titik penghimpunan dana, namun pengelolaannya sebaiknya bermitra dengan lembaga ZISWAF berizin agar dana umat tersalurkan secara adil dan membawa kemaslahatan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya mengarahkan dana Ramadan pada program pemberdayaan ekonomi, bukan semata bantuan konsumtif jangka pendek. Program penguatan usaha mikro, pelatihan kewirausahaan, hingga pengembangan soft skill dinilai dapat menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat sekitar masjid.
Menurut Prof Tika, kolaborasi dengan karang taruna, tokoh masyarakat, serta komunitas lokal dapat memperluas jangkauan program pemberdayaan. Dengan strategi yang terukur dan konsisten, Ramadan tidak hanya menjadi momen peningkatan ibadah, tetapi juga fondasi penguatan kemandirian ekonomi umat dalam jangka panjang. (tas)

