Surabaya (prapanca.id) – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Berkat digitalisasi, komunikasi lintas negara kini dapat dilakukan dengan mudah, akses informasi semakin terbuka, dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi hanya melalui perangkat pintar. Kemudahan ini sangat dirasakan oleh generasi muda yang tumbuh di tengah pesatnya kemajuan teknologi.
Namun, di balik segala kepraktisan tersebut, muncul tantangan serius yang kerap luput dari perhatian, yakni menurunnya kualitas attitude atau sikap dalam kehidupan sehari-hari. Kemudahan akses dan kebebasan berekspresi di ruang digital tidak jarang diiringi dengan lunturnya sopan santun, etika berkomunikasi, serta rasa saling menghargai.
Attitude merupakan sikap mental yang memengaruhi cara seseorang berpikir, bertindak, dan merespons lingkungan. Sikap ini tercermin dalam perilaku nyata, mulai dari cara berbicara, menghargai pendapat orang lain, hingga kemampuan mengendalikan emosi.
Dalam berbagai kajian pengembangan diri, attitude disebut memiliki peran dominan dalam menentukan keberhasilan seseorang. Bahkan, banyak ahli menilai bahwa kesuksesan lebih banyak ditentukan oleh sikap dibandingkan kemampuan akademik atau keterampilan teknis semata. Individu dengan attitude positif cenderung lebih mudah diterima dalam lingkungan sosial maupun profesional.
Fenomena kurangnya tata krama, rendahnya empati, serta menurunnya etika komunikasi kini semakin sering dijumpai, terutama di ruang digital. Komentar negatif di media sosial, budaya meremehkan orang lain, hingga sulitnya menerima kritik menjadi gambaran tantangan attitude generasi masa kini.
Jika sikap negatif ini dibiarkan, dampaknya tidak hanya terasa dalam kehidupan sosial, tetapi juga dapat memengaruhi masa depan seseorang, termasuk peluang karier dan relasi kerja. Dunia profesional saat ini tidak hanya mencari individu yang cerdas, tetapi juga mereka yang mampu bekerja sama, beretika, dan memiliki sikap yang baik.
Berbeda dengan anggapan bahwa sikap adalah bawaan lahir, attitude sejatinya dapat diajarkan dan dibentuk. Proses ini dimulai dari lingkungan keluarga sebagai pendidikan pertama, lalu diperkuat melalui sekolah, pergaulan, dan pengalaman hidup.
Sikap positif seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, pengendalian diri, serta daya juang perlu dilatih secara konsisten. Ketika attitude sudah menjadi kebiasaan, individu akan lebih siap menghadapi tantangan di berbagai fase kehidupan.
Meski attitude memegang peranan besar, knowledge dan skill tetap menjadi faktor pendukung yang tidak kalah penting. Pengetahuan diperoleh melalui proses belajar, sementara keterampilan diasah melalui latihan dan pengalaman.
Namun, di tengah perkembangan zaman yang cepat, knowledge dan skill akan terus berubah. Apa yang relevan hari ini bisa jadi usang di masa depan. Hal inilah yang membedakan keduanya dengan attitude, karena nilai-nilai sikap positif akan selalu relevan sepanjang waktu.
Dalam lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, hingga organisasi, individu dengan attitude baik cenderung lebih dipercaya dan diajak bekerja sama. Sikap yang positif menciptakan rasa nyaman, membangun reputasi baik, serta membuka lebih banyak peluang dalam jangka panjang.
Bagi generasi muda yang merasa belum unggul secara akademik atau keterampilan, tidak perlu berkecil hati. Knowledge dan skill dapat dipelajari kapan saja, asalkan ada kemauan dan ketekunan. Sebaliknya, tanpa attitude yang baik, kecerdasan dan kemampuan sering kali tidak cukup untuk membawa seseorang pada kesuksesan berkelanjutan.
Di era digital dan kecerdasan buatan saat ini, manusia dituntut untuk terus beradaptasi dan belajar. Namun, di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, nilai-nilai attitude seperti empati, sopan santun, kejujuran, dan kerja keras harus tetap dijaga.
Dengan memadukan attitude yang baik, kemampuan yang terus diasah, serta usaha yang konsisten, setiap individu memiliki peluang lebih besar untuk meraih kesuksesan, tidak hanya secara materi, tetapi juga dalam kualitas hidup dan hubungan sosial. (ant)

