Surabaya (prapanca.id) – Sepanjang tahun 2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjadikan pembangunan infrastruktur dasar sebagai salah satu prioritas utama, selain program pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan penguatan perekonomian masyarakat. Fokus tersebut diarahkan pada perbaikan jalan dan pengendalian banjir yang membutuhkan sinergi lintas sektor.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur, termasuk pengendalian banjir dan peningkatan kualitas jalan, telah masuk dalam daftar program prioritas Pemkot Surabaya pada 2025. Kebijakan tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2021–2026.
“Pemerintah kota punya semangat bersama dengan DPRD. Dari sekian titik genangan, kita harapkan jumlahnya terus berkurang sehingga masyarakat semakin merasakan kehadiran pemerintah,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi, Rabu (31/12/2025).
Selama 2025, Pemkot Surabaya telah menuntaskan berbagai program strategis penanganan banjir dan perbaikan jalan. Di antaranya pembangunan lima rumah pompa baru, pembangunan saluran drainase di 233 titik, serta pengaspalan jalan di 24 lokasi dengan total panjang mencapai 10.285,83 meter.
Lima rumah pompa yang dibangun masing-masing memiliki kapasitas 3,5 meter kubik per detik. Fasilitas tersebut tersebar di Jalan Dukuh Menanggal (Gayungan), Jalan Karah Agung (Jambangan), Jalan Ketintang Madya (Gayungan), Jalan Margorejo Indah (Wonocolo), dan Jalan Amir Mahmud (Gunung Anyar).
Menurut Wali Kota Eri, pengendalian genangan air di Surabaya tidak cukup hanya mengandalkan sistem saluran berbasis gravitasi. Keberadaan rumah pompa menjadi elemen krusial untuk mempercepat aliran air dari daratan menuju laut saat terjadi hujan deras.
“Kalau hanya mengandalkan gravitasi atau elevasi, air surutnya lama. Maka salah satu solusinya adalah membangun rumah pompa,” jelasnya.
Selain rumah pompa, Pemkot Surabaya juga membangun saluran drainase di 233 lokasi dengan total panjang mencapai 56.365 meter atau sekitar 56,36 kilometer. Beberapa ruas yang telah ditangani antara lain Saluran Jalan Karah sisi barat sepanjang 1.096 meter, Jalan Raya Kedung sisi barat RW 3 sepanjang 883 meter, Jalan Raya Pagesangan sepanjang 630 meter, Outlet Raya Sambikerep sepanjang 850 meter, serta Siwalankerto Timur sisi timur sepanjang 900 meter.
Pembangunan juga dilakukan di Diversi Taman Cahaya–Jalan Raya Pakal sepanjang 425 meter, Saluran Jalan Gayungsari Barat X sepanjang 1.102 meter, Lebak Permai III sepanjang 528 meter, Tambak Wedi Jaya III sepanjang 940 meter, dan Jalan Jemursari II sepanjang 570,90 meter. Berbagai upaya tersebut berkontribusi pada penurunan jumlah titik genangan hingga 38 lokasi.
Pemkot Surabaya turut mempercepat penyelesaian proyek drainase di kawasan yang selama ini menjadi langganan banjir. Percepatan dilakukan agar seluruh pekerjaan rampung sebelum puncak musim hujan Januari–Februari 2026. Salah satu contohnya adalah kawasan Pakal yang kini dinilai lebih aman setelah sistem drainase dibenahi. Untuk tahun mendatang, pembangunan drainase akan diprioritaskan di wilayah Sukomanunggal.
“Saya mohon doa dan kerja sama warga Surabaya. Tahun depan pembangunan saluran akan kita lanjutkan berbasis kawasan,” kata Eri.
Ia juga meminta peran aktif camat, lurah, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) untuk mengedukasi warga agar menyesuaikan bangunan sesuai batas tanah yang sah. Pasalnya, masih ditemukan saluran air yang tertutup bangunan rumah warga. “Rumahnya harus mundur sesuai dengan surat tanahnya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Syamsul Hariadi, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 terdapat ratusan proyek saluran air yang dikerjakan di berbagai wilayah kota.
“Ketika hujan turun, saluran-saluran ini harus berfungsi maksimal,” ujar Syamsul.
Ia menjelaskan, sebagian besar proyek berupa pembangunan saluran baru dan pelebaran saluran lama. Material saluran yang sebelumnya menggunakan batu kali kini diganti dengan box culvert berukuran lebih besar untuk meningkatkan kapasitas tampung air.
Selain infrastruktur fisik, persoalan sampah masih menjadi tantangan utama penanganan genangan. Untuk itu, Pemkot Surabaya menyiagakan petugas dan satuan tugas rumah pompa selama 24 jam. Saat tidak hujan, petugas menyisir saluran air, sedangkan ketika hujan turun mereka fokus membersihkan saringan rumah pompa.
Saat ini, Kota Surabaya memiliki total 81 rumah pompa, dengan lima unit di antaranya dibangun pada 2025. Jumlah petugas di setiap rumah pompa berkisar antara empat hingga delapan orang, tergantung ukuran dan karakteristik pompa. Beberapa rumah pompa besar, seperti di Greges dan Kalisari, bahkan dilengkapi hingga tujuh unit pompa berkapasitas besar.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Fathoni menilai pengendalian banjir masih menjadi pekerjaan rumah jangka panjang. Menurutnya, kondisi geografis Surabaya yang berada di wilayah cekungan serta aliran air dari daerah hulu seperti Malang dan Sungai Brantas menjadi tantangan tersendiri, ditambah potensi pasang air laut.
Meski demikian, DPRD mengapresiasi hasil positif di sejumlah kawasan yang sebelumnya rutin terdampak banjir. “Alhamdulillah di beberapa tempat yang dulu langganan banjir, sekarang sudah tidak ada. Artinya program pengendalian banjir ini efektif meski belum 100 persen,” ujarnya.
DPRD bersama Pemkot Surabaya juga telah menyusun skema pembiayaan berkelanjutan agar pembangunan infrastruktur tidak terhenti. Targetnya, seluruh proyek strategis penanganan banjir dan perbaikan jalan dapat diselesaikan secara bertahap hingga 2028.
“Mudah-mudahan ketika seluruh proyek infrastruktur ini rampung, masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” pungkas Fathoni. (tas)

