Jombang (prapanca.id) – Komunitas Guru Penulis Sidoarjo (KGPS) kembali menghadirkan karya terbaru melalui peluncuran antologi puisi bertajuk “Mengajar Dengan Cinta, Menulis Dengan Hati”. Buku yang memasuki edisi ke-13 ini ditulis oleh 17 anggota KGPS bersama 11 penulis tamu. Peluncurannya berlangsung dalam suasana hangat di hall agrowisata dan pendidikan De Durian Park, Wonosalam, Jombang.
Acara tersebut dihadiri sekitar 20 anggota KGPS serta beberapa tokoh pendidikan, termasuk CEO De Durian Park, Yusron Aminoellah MM yang juga dikenal sebagai pemerhati pendidikan dan jurnalis senior. Hadir pula Rektor UPN “Veteran” Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, MMT, serta Ketua Perwakilan YPLP PGRI Jawa Timur, Dr. Dwi Retnani Sri Narwati, M.Si.
Belasan Guru dan Penulis Tamu Terlibat dalam Buku Edisi ke-13
Sebanyak 17 penulis KGPS terlibat dalam antologi ini, antara lain Arifah Ulum Permatasari, Chusnul Chotimah, Endang Kusniati, Etik Wahyuni Musih, Indrawati, Kasma Budi Rahayu, Kris Mariyono, Laili Maslikah, Nikmatus Sholicha, Nurul Ainia, Suhartatik, Sutiyah, Titin Kusminarsih, Tri Lukiningtyas, Tutut Kusmiati, Wuri Yani, dan Yashinta Anggraini.
Sementara itu, sejumlah penulis tamu turut memperkaya karya, di antaranya penyair Denting Kemuning, Dimas Parwati, Dwi Amilia Baroro, Endang Mastuti Rahayu, Imung Mulyanto, Jasmine Marcia, Jovita Ismudiyahsari, Sari Rahmayani, Wahyu Bsnjarsasri, Wiwin Widyantari, dan Yayuk Sulistiyawati.
Apresiasi Tinggi dari Tokoh Pendidikan
Ketua KGPS, Endang Kusniati S.Pd, menyampaikan bahwa pendidik dituntut memiliki ketulusan dalam mendampingi peserta didik, dan nilai tersebut tercermin dalam karya sastra yang dihasilkan.
Dukungan juga datang dari Yusron Aminoellah yang menilai bahwa konsistensi para guru dalam berkarya merupakan bentuk dedikasi di tengah padatnya aktivitas pendidikan.
Rektor UPN Jawa Timur, Prof. Dr. Akhmad Fauzi, memberikan apresiasi serupa. Menurutnya, penulisan puisi membutuhkan proses panjang dan kedalaman perenungan, sehingga upaya KGPS patut menjadi inspirasi bagi generasi muda.
Tantangan Dunia Maya dan Peran Guru
Dalam sesi Bincang Santai bertema “Mengembangkan Kreasi dan Energi Guru”, jurnalis senior sekaligus penulis serial ACI TVRI, Imung Mulyanto, menyoroti tantangan dunia pendidikan di era digital. Ia menilai bahwa maraknya media sosial dan konten negatif perlu diimbangi dengan pembekalan karakter yang kuat melalui peran guru.
Imung juga membacakan salah satu puisinya yang turut dimuat dalam antologi tersebut, sebuah karya yang menyinggung pentingnya pendidikan berlandaskan moralitas dan kepekaan hati.
“Jangan sekolah anakku !/ kalau hanya ingin pandai/ kalau kepintaran hanya untuk membodohi sesama/ karena banyak orang pintar tapi juga minteri// Jangan sekolah anakku !/ kalau hanya ingin jadi ahli strategi/ karena semua koruptor pandai berstrategi/ ahli merancang siasat agar bisa menggarong uang rakyat// Jangan sekolah anakku / kalau hanya ingin lancar berpidato/ karena para politisi dan birokrat sangat ulung berkata-kata/ sampai lupa mensejahterakan rakyat….” (sas)

