Jombang (prapanca.id) – Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, kembali menjadi pusat diskusi intelektual melalui gelaran Bedah Buku “Teladan dari Rumah Ulama” yang berlangsung di Gedung Yusuf Hasyim. Acara ini menghadirkan pembahasan mendalam mengenai perjalanan keluarga besar pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, sekaligus menegaskan kembali relevansi gagasan mereka dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Buku karya dr. KH Umar Wahid—putra bungsu KH Wahid Hasyim dan Nyai Solichah—menghadirkan sudut pandang personal mengenai kiprah lima saudaranya: KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ny Aisyah Hamid Baidlowi, Nyai Lili Chadijah Wahid, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), dan KH Hasyim Wahid (Gus Im).
Melalui catatan reflektif, penulis menggambarkan warisan pendidikan, kedisiplinan, serta nilai pesantren yang membentuk karakter keluarga tersebut. Penulis juga menyoroti bagaimana nuansa budaya Betawi mewarnai keseharian mereka karena sebagian besar menetap di Jakarta.
Bagian terbesar buku dipusatkan pada sosok Gus Dur, mengingat peranannya sebagai anak sulung dan keterlibatan dr. Umar sebagai dokter pribadi hingga masa kepemimpinan Gus Dur sebagai Presiden. Kisah Gus Dur digambarkan sebagai perjalanan lintas budaya dan bangsa, sejalan dengan pengaruhnya yang mendunia. Ide penulisan buku ini lahir saat dr. Umar memimpin Tim Pemenangan Pilkada Jateng 2024, ketika banyak kiai menilai perlunya pelestarian nilai-nilai ajaran KH Wahid Hasyim.
Kekayaan Warisan Tiga Pahlawan Nasional
Acara bedah buku turut dihadiri rombongan dari Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga. Wakil Direktur 3, Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, hadir bersama Dr. Hendro Puspito.
Dalam pemaparannya, Prof. Suparto menilai keberadaan tiga Pahlawan Nasional dari satu keluarga—KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid—sebagai pencapaian sejarah yang patut dibanggakan. Ia menyoroti kontribusi keluarga ulama tersebut, mulai dari peranan global lewat Komite Hijaz, Resolusi Jihad, hingga gagasan yang tertanam dalam dasar negara.
Penghargaan tersebut dipandang relevan dengan momentum Peringatan Hari Pahlawan di bulan November, yang mengingatkan publik pada pentingnya semangat patriotisme dan keteladanan intelektual.
Inspirasi Literasi dari Perpustakaan “Hommy” ala Tiongkok
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menyampaikan pandangan mengenai pengembangan perpustakaan yang inklusif.
Dalam diskusi terkait pengembangan koleksi perpustakaan Masjid Nuruzzaman UNAIR, ia menekankan pentingnya konsep ruang baca yang nyaman dan tidak kaku, terinspirasi dari perpustakaan di Tiongkok yang dirancang ramah pembaca. Pendekatan ini dinilai dapat meningkatkan minat literasi dan membuka ruang belajar yang lebih partisipatif.
Mengunjungi Ruang Pribadi Pendiri NU
Kunjungan rombongan Universitas Airlangga mencapai puncaknya ketika mereka mendapat kesempatan memasuki kamar pribadi Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.
Ruangan sederhana tersebut menyimpan artefak penting, mulai dari kumpulan buku, Al-Qur’an yang digunakan semasa hidup beliau, replika tempat tidur, tongkat, hingga Wayang Hadratussyaikh. Koleksi tersebut memperlihatkan kontras antara kesederhanaan hidup ulama besar dengan keluasan gagasan dan pengaruhnya yang mendunia.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan ziarah ke kompleks pemakaman pesantren serta kunjungan ke deretan toko koperasi Tebuireng. Para peserta membawa pulang inspirasi mengenai keteladanan, nilai kepahlawanan, dan semangat literasi yang terus hidup di rumah para ulama besar tersebut. (agu)

