Surabaya (prapanca.id) – Dua mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil menyabet gelar Juara 1 dan Best Essay dalam Islamic Medical Scientific Competition and Collaboration Seminar Organized (IMSCOBI) 2025. Mereka adalah M Ibaness Maula Ardinata dari Fakultas Kedokteran (2023) dan Nabila Fariha Hanim dari Fakultas Farmasi (2023).
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Lembaga Kerohanian Islam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tersebut berlangsung dari Jumat (31/10/2025) hingga Minggu (2/11/2025). Karya mereka mengusung gagasan inovatif untuk pengobatan Diabetes Melitus Tipe 1.
Esai ilmiah yang ditulis berjudul “Optimalisasi Kelangsungan Cangkok CiPSCs Sel Islet Pankreas melalui Nanoenkapsulasi Layer-by-Layer Kolagen dan Partikel Imunosupresan Non-Sistemik sebagai Terapi Diabetes Melitus Tipe 1 dalam Perspektif Islam”. Menurut keduanya, ide ini lahir dari keinginan untuk menemukan alternatif penyembuhan yang lebih baik dari ketergantungan terapi insulin seumur hidup.
Nabila menjelaskan bahwa terapi insulin selama ini hanya berfungsi memperpanjang harapan hidup penderita, bukan untuk menyembuhkan secara total. Melalui riset mendalam, tim menemukan bahwa kerusakan sel beta pankreas sebagai penyebab utama penyakit ini berpotensi diperbaiki dengan transplantasi sel punca.
“Stem cell atau sel punca itu dapat mengobati segala jenis penyakit yang bersumber dari genetik. Namun, kami sempat menghadapi suatu masalah karena transplantasi sel punca berpotensi mengalami penolakan. Maka dari itu, kami berusaha menemukan solusi untuk mengoptimalisasi proses pencangkokan sel punca itu,” tambah Ibaness.
Strategi pertama yang diusung adalah penggunaan nanoenkapsulasi layer-by-layer kolagen, sebuah teknik penyusunan kolagen berlapis yang berfungsi sebagai pelindung bagi sel cangkok.
“Strategi ini bermanfaat untuk memperpanjang sel punca yang didonorkan, sehingga dapat bertahan lama di tubuh. Hal itu turut berpengaruh besar terhadap jeda konsumsi insulin oleh pasien,” jelas Nabila.
Mereka juga mengusung penggunaan partikel imunosupresan non-sistemik untuk meminimalkan efek samping pasca-transplantasi. Partikel ini dinilai mampu menurunkan tingkat toksisitas dalam tubuh yang biasa ditimbulkan oleh obat imunosupresan sistemik.
Mereka mengakui bahwa riset tentang pencangkokan sel punca pengganti sel beta pankreas pada manusia masih sangat jarang, sehingga menyulitkan pencarian literatur pendukung. Harapan terbesar mereka, esai ini dapat menyumbang kebaruan riset untuk terapi Diabetes Melitus Tipe 1 di masa depan.
“Lebih spesifik, aku berharap inovasi ini dapat diterapkan di Indonesia karena masih jarang ditemukan inovasi bioteknologi di sini. Penerapan sel punca ini masih didominasi oleh ilmuwan-ilmuwan luar negeri,” pungkas Nabila. Keduanya berharap inovasi ini dapat mengubah anggapan bahwa Diabetes Melitus Tipe 1 adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total. (anz)

