Malang (prapanca.id) – Universitas Brawijaya (UB) menyatakan komitmennya untuk memperkuat ekosistem Media Arts di Kota Malang, menyusul penetapan kota tersebut sebagai UNESCO Creative City of Media Arts. Langkah strategis ini akan diwujudkan melalui penguatan kegiatan akademik, perluasan jejaring internasional, dan inovasi berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI).
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., menegaskan bahwa status baru Malang ini bukan hanya sebuah penghargaan, tetapi juga tanggung jawab kolektif bagi seluruh elemen kota. Ia menyatakan UB akan berperan aktif sebagai pusat pengetahuan, riset, dan inovasi untuk memperkuat karakter kreatif Malang, sekaligus menjembatani seni, teknologi, dan masyarakat.
Kolaborasi antara UB dengan Pemerintah Kota Malang di bidang media arts dan pengembangan budaya digital telah berjalan beberapa tahun terakhir. Inisiatif konkret termasuk proyek digitalisasi warisan budaya yang melibatkan Fakultas Ilmu Budaya UB, National University of Singapore, dan Pemkot Malang. Melalui proyek ini, kawasan bersejarah Kayutangan dan komoditas kopi Malang diolah dalam format digital untuk akses publik dan eksplorasi kreatif.
Pendekatan media arts, menurut Prof. Widodo, memberikan cara baru bagi generasi muda untuk memahami warisan lokal melalui teknologi. Ia menekankan bahwa digitalisasi budaya menjadi metode inovatif untuk mendekatkan masyarakat dengan sejarahnya, di mana teknologi berperan memperkuat upaya pelestarian.
UB juga mengoptimalkan peran Artificial Intelligence (AI) Center yang diresmikan pada Januari 2025 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika. Fasilitas ini dilengkapi infrastruktur superkomputer dan sistem komputasi berperforma tinggi untuk mendukung riset kolaboratif di bidang animasi berbasis AI, generative media, dan pengolahan data budaya digital.
Dalam proses menuju penetapan UNESCO, UB berkontribusi melalui jejaring akademik internasional, termasuk kemitraan dengan Peking University. Kolaborasi dengan Prof. Dr. Yong (Hardy) Xiang, pemegang UNESCO Chair on Creativity and Sustainable Development in Rural Areas, menghasilkan surat rekomendasi yang menyoroti kemajuan Malang dalam membangun ekosistem seni media yang inklusif.
Sekretaris Direktorat Kerjasama UB, P.M. Erza Killian, S.IP., M.IEF., Ph.D., mengungkapkan peran sentral akademisi Fakultas Ilmu Budaya UB dalam membangun kolaborasi internasional dengan Peking University. Jejaring akademik dan profesional yang dibangun selama dua tahun terakhir berfokus pada eksplorasi potensi industri budaya di Kota Malang, dengan tujuan menjadikannya pusat media art dan budaya kreatif di Asia Tenggara.
UB memiliki sejumlah program studi dan fasilitas pendukung media arts, termasuk Program Studi Seni Rupa Murni di Fakultas Ilmu Budaya, Laboratorium Multimedia di Fakultas Ilmu Komputer, serta Departemen Industri Kreatif dan Digital di Fakultas Vokasi.
Inisiatif terbaru adalah pembentukan International Workstation in Creativity and Rural Development, hasil kolaborasi UB dan Peking University yang akan diresmikan akhir November. Program ini bertujuan menghubungkan kota dan wilayah pedesaan kreatif serta memperkuat jaringan riset dan inovasi global.
Prof. Widodo menegaskan bahwa visi ‘industri berbasis budaya’ yang diusung UB sejalan dengan semangat UNESCO Creative Cities Network. Penetapan UNESCO merupakan langkah awal, di mana konsistensi kerja sama antara pemerintah, kampus, komunitas, dan pelaku industri kreatif menjadi kunci agar manfaatnya dirasakan luas oleh masyarakat. (anz)

