Surabaya (prapanca.id) – Film animasi Merah Putih: One for All tengah menjadi sorotan publik usai menuai pro dan kontra. Mengangkat tema nasionalisme dan persatuan, film ini semula diharapkan mampu menumbuhkan kebanggaan terhadap animasi lokal. Namun, kualitas visual yang dinilai belum memenuhi standar membuat pesan budaya yang diusung dinilai kurang tersampaikan secara efektif.
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Irfan Wahyudi, S.Sos., M.Comms., Ph.D, menegaskan pentingnya aspek teknis dan estetika dalam karya audio-visual. Menurutnya, penerimaan pesan sangat bergantung pada pengemasan visual.
“Film, baik animasi maupun non-animasi, harus memenuhi kaidah estetika karena itu berkaitan dengan penerimaan audiens. Ketika visual tidak mendukung, pesan yang ingin disampaikan berisiko tidak efektif,” jelas Irfan, Rabu (13/8/2025).
Standar Visual Jadi Kunci
Irfan menilai kritik terhadap film One for All merupakan hal wajar. Masyarakat saat ini sudah terbiasa dengan standar animasi tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga ekspektasi pun meningkat.
“Dalam menikmati karya visual, yang pertama kali dilihat adalah kualitas visualnya, baru kemudian pesan yang dibawa. Jika visual lemah, maka pesan nasionalisme bisa tertutupi,” tambahnya.
Ia menekankan, pesan heroik dan nilai kebangsaan dalam sebuah karya tidak bisa dilepaskan dari kualitas media yang digunakan. Seperti halnya tulisan yang membutuhkan gaya bahasa baik, film animasi pun membutuhkan visual yang kuat sebagai pintu masuk audiens.
Tantangan Industri Animasi Lokal
Selain itu, Irfan menyoroti adanya perbandingan publik dengan karya animasi lain yang dinilai lebih baik. Hal ini menjadi tantangan bagi industri animasi lokal untuk terus meningkatkan kualitas agar bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa satu karya dengan kualitas rendah tidak serta-merta meruntuhkan citra kreatif bangsa. Menurutnya, masyarakat Indonesia sudah memiliki referensi dari karya animasi lain yang digarap serius dan diapresiasi positif.
“Yang penting adalah kita terus belajar dan meningkatkan kualitas. Jangan sampai satu kasus dijadikan kesimpulan untuk semua karya animasi Indonesia,” tegasnya.
Irfan juga mengingatkan agar rumah produksi mengutamakan kualitas teknis sebelum menyampaikan pesan. Dengan begitu, nilai budaya maupun nasionalisme bisa diterima secara efektif, sekaligus meningkatkan rasa bangga masyarakat terhadap karya anak bangsa. (anz)

