
Surabaya (prapanca.id) – Kampung Berseri Astra (KBA) Kampoeng Oase Ondomohen di Surabaya kembali menjadi pusat perhatian dalam upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Kali ini, KBA Ondomohen dikunjungi oleh rombongan akademisi dari Saint Louis College (SLC) Thailand dan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Jumat (27/6/2025).
Kunjungan ini merupakan bagian dari program tahunan kerja sama internasional antara UKWMS dan SLC Thailand, di mana dosen dan mahasiswa dari kedua negara saling bertukar pengalaman melalui kunjungan lapangan ke perusahaan, rumah sakit, sekolah, hingga komunitas masyarakat.
Dalam kunjungan ke KBA Kampoeng Oase Ondomohen, para tamu diajak mengenal lebih dekat bagaimana konsep kampung ramah lingkungan dibentuk melalui berbagai program edukasi, pelestarian lingkungan, serta pelatihan berbasis daur ulang. Salah satu sesi paling menarik adalah pelatihan menjahit eco bag dari kain sisa atau perca, yang dipandu oleh pelaku UMKM lokal sekaligus pemilik brand ByVira, Novita Rahayu Purwaningsih.
“Hari ini saya ajarkan mereka membuat eco bag dari kain perca, bisa dari baju lama atau celana jeans bekas. Ini membantu mengurangi sampah dan juga berguna,” jelas Novita.
Pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga membuka wawasan mahasiswa bahwa limbah kain memiliki nilai guna tinggi jika dikelola dengan kreativitas. Bahkan, menurut Novita, para peserta sangat antusias mengikuti sesi tersebut.
“Hasilnya memang belum rapi, tapi mereka bangga karena bisa dipakai sendiri. Saya harap ilmu ini bisa mereka bawa dan terapkan di negaranya,” tambahnya.
Tiga mahasiswa SLC Thailand, yakni Chananya Sathansap (Palmy), Natnicha Nitikornsettawut (Cicha), dan Sa San Htoo Lin (Steven), mengaku baru pertama kali menjahit, namun merasa kegiatan tersebut menyenangkan dan inspiratif.
“Seru sekali. Saya baru tahu kita bisa bikin tas dari bahan yang sederhana,” ujar Palmy.
“Saya suka idenya. Kain sisa bisa jadi tas dan bisa dipakai sehari-hari. Ini sederhana, tapi bermakna,” timpal Cicha.
Dosen pendamping mereka, Thirawarin Bunyapipat, menilai kegiatan tersebut memberikan cara belajar yang menyenangkan dan penuh makna.
“Kami belajar menghargai barang bekas, membuat sesuatu dari nol, dan itu sangat memuaskan. Pembelajaran tidak harus selalu di kelas,” ujarnya.
KBA Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya dikenal sebagai kampung percontohan dalam pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Dengan sistem pelestarian berbasis partisipasi warga, kampung ini terus menjadi destinasi pembelajaran, baik bagi institusi nasional maupun internasional.
Bagi rombongan dari Thailand, kunjungan ke kampung ini memberikan perspektif baru. Mereka bahkan mengungkapkan bahwa belum ada kawasan seperti ini di negara asal mereka, sehingga pengalaman ini sangat berkesan dan akan menjadi inspirasi dalam pengembangan komunitas di sana. (anz)
