Surabaya (prapanca.id) – Perjalanan menuju panggung internasional tidak selalu dimulai dari kondisi yang serba mudah. Keterbatasan ekonomi justru menjadi pengalaman yang membentuk ketangguhan dan semangat juang bagi sebagian orang untuk terus berkembang. Hal tersebut tercermin dari perjalanan Ida Ayu Prasasti Dewi, alumnus Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga tahun 2015, yang kini aktif menyuarakan hak-hak digital hingga forum internasional.
Perempuan yang akrab disapa Sasti itu berhasil meniti karier di bidang literasi digital melalui organisasi non-profit atau non-governmental organization (NGO). Konsistensinya dalam isu tata kelola digital mengantarkannya menjadi delegasi Indonesia dalam forum International Telecommunication Union (ITU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss.
Di balik pencapaiannya tersebut, terdapat perjalanan panjang yang diwarnai perjuangan ekonomi dan tantangan psikologis selama menjalani masa kuliah di Surabaya.
Selama menempuh pendidikan di Universitas Airlangga, Sasti harus membagi waktu antara kegiatan akademik dan pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup serta biaya kuliah. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, ia mampu menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,7.
Pencapaian tersebut menjadi salah satu hasil dari disiplin dan konsistensinya dalam menjalani kehidupan perkuliahan secara mandiri.
Dalam perjalanan mencari penghasilan tambahan, Sasti memulai pekerjaan paruh waktunya di sebuah usaha mikro. Tidak berhenti di situ, ia juga mencoba membangun usaha mandiri dengan menjual risoles di lingkungan kampus.
Aktivitas berjualan dilakukan sejak dini hari. Ia memproduksi dagangannya sebelum didistribusikan sekitar pukul 06.00 pagi kepada pelanggan di area kampus. Kesibukan tersebut dijalani beriringan dengan kewajiban akademik yang tetap harus diselesaikan.
Menjelang akhir masa studi, Sasti mulai memasuki dunia kreatif dengan menjadi penyiar radio di Surabaya. Pengalaman tersebut kemudian membuka jalan baginya untuk mengenal lebih luas dunia komunikasi dan literasi digital yang kini menjadi fokus kariernya.
“Tantangan terbesar saat itu adalah aspek finansial dan psikologis. Namun, keterbatasan tersebut justru mendorong saya untuk bekerja lebih keras dibandingkan rekan-rekan lainnya. Saya percaya bahwa kesungguhan akan membawa kita pada keberhasilan,” ujar Sasti saat mengenang masa kuliahnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di UNAIR, perjalanan karier Sasti berkembang di organisasi NGO ICT Watch Jakarta, sebuah lembaga yang bergerak di bidang literasi digital dan hak-hak digital masyarakat.
Dedikasinya dalam isu tersebut membawanya dipercaya menjadi delegasi Indonesia di forum ITU PBB di Jenewa, Swiss. Forum tersebut merupakan salah satu wadah internasional yang membahas perkembangan teknologi komunikasi dan tata kelola digital global.
Keterlibatannya dalam forum internasional menjadi bagian dari kontribusinya dalam menyuarakan pentingnya hak digital, literasi digital, dan tata kelola teknologi yang inklusif.
Saat ini, Sasti juga tengah mempersiapkan penyelesaian studi doktoralnya dengan fokus kajian pada tata kelola pemerintahan berbasis teknologi. Bidang tersebut dinilai semakin relevan di tengah percepatan transformasi digital di berbagai sektor.
Dalam pesannya kepada mahasiswa Universitas Airlangga, Sasti menekankan pentingnya keberanian untuk mencoba langkah baru dan terus mencari solusi atas tantangan yang dihadapi.
Ia juga mengajak generasi muda untuk terus memberikan manfaat bagi sesama melalui prinsip hidup yang dipegangnya, yakni “Urip iku Urup”, yang bermakna hidup seharusnya mampu memberi cahaya atau manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Keberuntungan sebenarnya adalah perpaduan antara persiapan yang matang dan kesempatan. Oleh karena itu, tetaplah rendah hati untuk terus belajar dan jangan pernah berhenti bergerak mencari solusi atas setiap tantangan yang ada,” kata Sasti.
Ia berharap kisah perjalanannya dapat menjadi inspirasi bagi civitas akademika UNAIR dan generasi muda lainnya bahwa keterbatasan ekonomi maupun pengalaman hidup di masa lalu tidak menjadi penghalang untuk meraih prestasi hingga tingkat internasional.
“Semoga pengalaman ini dapat menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang selama memiliki kemauan untuk terus belajar dan berusaha,” pungkasnya. (tas)

