Batu (prapanca.id) – Delapan mahasiswa S1 Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang (UM) menggelar pameran seni bertajuk Seni Lupa di Galeri Raos, Batu, Malang. Pameran ini berlangsung selama enam hari, dari 8 hingga 13 November 2025, dan dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB.
Sebanyak 42 karya lukisan dipamerkan, dengan delapan tema berbeda yang menghiasi setiap sudut ruang galeri. Karya-karya tersebut menggambarkan kedelapan emosi mahasiswa UM yang kini berada di penghujung semester sembilan.
Aditya Eka Putra, Ketua Pelaksana pameran, menjelaskan bahwa tajuk Seni Lupa merupakan plesetan dari Seni Rupa. Tema ini mencerminkan realita mahasiswa yang sering kali lupa dengan deadline tugas akhir akibat kesibukan lainnya.
“Karena kita lupa dengan deadline tugas akhir yang seharusnya sudah kita garap sejak lama,” ungkapnya.
“Kita langsung memproses karya masing-masing biar segera dipamerkan, dan segera sidang,” tambahnya
Setiap seniman menciptakan karyanya berdasarkan perjalanan emosional yang ditampilkan dalam karya visual. Tema yang diangkat bervariasi, mulai dari budaya lokal, isu eksploitasi terhadap hewan, keindahan alam, hingga nilai-nilai kehidupan.
Zitofani Dwi Fajar Ramadhani, salah satu mahasiswa yang berpartisipasi, mengangkat tema tentang sifat Angkara Murka
“Karya saya bercerita tentang perlawanan terhadap keserakahan sifat Angkara Murka. Bagaimana memberantas kejahatan dengan sifat itu,” jelas Zito, sapaan akrabnya.
Sifat angkara murka merujuk pada sifat negatif yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara yang buruk. Sehingga sesuatu yang diperoleh dengan cara tersebut akan memuai hasil buruk di kemudian hari. Namun, Zito meyakini bahwa sifat ini tidak selalu bertujuan buruk.

“Bagi saya, tidak semua sifat yang didasari hawa nafsu, terutama Angkara Murka, bertujuan untuk mencelakai; bisa juga digunakan untuk kebajikan, memberantas kejahatan,” tambahnya.
Dalam proses pembuatan lukisan, Zito menggunakan teknik nyawi, yaitu cara khusus yang diterapkan pada beberapa ornamen detail.
“Saya menggunakan bambu yang diruncingkan, lalu bagian ujung runcing dipukul menggunakan batu agar menciptakan tekstur halus pada ujung bambu,” jelasnya.
Zito berharap karyanya dapat dimaknai dengan baik oleh para pengunjung. “Saya berharap masyarakat dapat merasakan nilai-nilai yang terkandung dalam karya seni ini,” pungkasnya. (feb)

