Surabaya (prapanca.id) – Proyek kolaborasi internasional SURADAYA resmi diperkenalkan kepada publik dalam konferensi pers yang digelar di Auditorium Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya, Sabtu (27/6/2026). Program ini mempertemukan Indonesia, Jerman, dan Prancis untuk memperkuat literasi media melalui fotografi, jurnalisme, serta storytelling digital sebagai respons terhadap meningkatnya tantangan misinformasi di era digital.
Didukung Franco German Cultural Fund, SURADAYA menjadi ruang kolaborasi lintas negara yang mengajak fotografer, jurnalis, akademisi, seniman, dan generasi muda memahami bagaimana informasi diproduksi, disebarkan, hingga diterima masyarakat melalui berbagai platform digital.
Mengusung tema “Fight Against Misinformation”, proyek ini tidak hanya menghadirkan proses kreatif, tetapi juga mendorong kemampuan berpikir kritis terhadap arus informasi yang semakin cepat dan kompleks.
Kolaborasi Internasional Perkuat Pendidikan Fotografi dan Literasi Media
SURADAYA merupakan hasil kerja sama sejumlah institusi pendidikan dan organisasi budaya dari tiga negara, yakni Franco German Cultural Fund, Hochschule Hannover – University of Applied Sciences and Arts (Jerman), École Nationale Supérieure de la Photographie (ENSP) Arles (Prancis), Universitas Airlangga, Surabaya Memory Universitas Kristen Petra, serta Orasis Art Space.
Kolaborasi tersebut mempertemukan dua institusi pendidikan fotografi terkemuka di Eropa dengan mitra akademik dan komunitas kreatif di Indonesia.
ENSP Arles dikenal sebagai satu-satunya sekolah tinggi seni di Prancis yang secara khusus berfokus pada pendidikan fotografi di bawah Kementerian Kebudayaan Prancis dan memiliki keterkaitan erat dengan festival fotografi internasional Les Rencontres d’Arles. Sementara Hochschule Hannover merupakan program fotografi di Jerman yang memiliki spesialisasi pada fotografi jurnalistik dan dokumenter dengan rekam jejak prestasi di berbagai ajang internasional.
Kerja sama ini juga membuka peluang pengembangan pendidikan dan pertukaran budaya melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU), program pertukaran mentor serta mahasiswa melalui Erasmus+, hingga penyelenggaraan pameran bersama di Indonesia, Prancis, dan Jerman.
Inisiatif tersebut sekaligus mendukung penguatan hubungan budaya Indonesia–Prancis sebagaimana tertuang dalam Borobudur Agreement, yang mendorong kolaborasi sektor kreatif kedua negara.
Peserta Didampingi Praktisi Fotografi dan Jurnalisme Internasional
Selama pelaksanaan proyek, peserta memperoleh pendampingan dari fotografer, jurnalis, serta praktisi media berpengalaman dari tiga negara.
Para mentor tersebut terdiri atas Idealita Ismanto dan Mamuk Ismuntoro dari Indonesia, Kai Löffelbein serta Jakob Vicari dari Jerman, dan Clément Caignart dari Prancis.
Dalam konferensi pers, peserta turut mempresentasikan karya hasil eksplorasi mereka yang mengangkat berbagai isu mengenai memori kolektif, media, penyebaran informasi, hingga dampak misinformasi dalam kehidupan sehari-hari.
Alih-alih sekadar menampilkan karya fotografi, proyek ini berupaya membangun ruang dialog mengenai pentingnya literasi media, verifikasi informasi, dan kemampuan masyarakat untuk membaca konteks di balik sebuah narasi visual.
Pameran SURADAYA Digelar September 2026
Sebagai tindak lanjut, hasil proyek SURADAYA akan dipamerkan kepada publik melalui pameran yang bekerja sama dengan Orasis Art Space Surabaya pada September 2026.
Setelah itu, karya-karya peserta akan dikembangkan menjadi travelling exhibition yang akan dipresentasikan di berbagai kota di Indonesia, Jerman, dan Prancis. Format ini diharapkan dapat memperluas dialog lintas budaya mengenai tantangan misinformasi sekaligus memperlihatkan peran fotografi dan media visual dalam membangun pemahaman publik yang lebih kritis, inklusif, dan berbasis fakta.
Melalui kolaborasi internasional tersebut, SURADAYA diharapkan menjadi platform pertukaran pengetahuan, kreativitas, dan pengalaman yang memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi media di tengah derasnya arus informasi digital. (tas)

