Surabaya (prapanca.id) – Keterbatasan lahan budidaya menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan sektor akuakultur air tawar di Indonesia. Di sisi lain, permintaan pasar terhadap komoditas ikan nila dan lele terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) untuk menghadirkan inovasi budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset Eksakta (RE) Tahun 2026, lima mahasiswa FPK UNAIR mengembangkan sistem budidaya terpadu bernama Aquaspiral Nexus. Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai salah satu program riset mahasiswa yang dinilai memiliki potensi pengembangan lebih lanjut.
Penelitian yang mereka usung berjudul Efektivitas Sistem RAS dan IMTA melalui Aquaspiral Nexus pada Budidaya Nila-Lele. Riset tersebut dilakukan oleh tim INARISE yang terdiri atas Muhammad Iqbal Ferdhiansyach Kharits, Muhammad Ganiknow Tranadi, Fikri Syufi Ramadhan, Dania Martini, dan Sabiyla Azzahra di bawah bimbingan Muhammad Hanif Azhar, S.Pi., M.Si., Ph.D.
Ketua tim penelitian, Muhammad Iqbal Ferdhiansyach Kharits, menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari kebutuhan untuk menciptakan sistem budidaya ikan yang mampu meningkatkan produktivitas meskipun dilakukan pada lahan yang relatif terbatas.
Menurutnya, pembudidaya saat ini membutuhkan teknologi yang tidak hanya mampu meningkatkan hasil produksi, tetapi juga dapat menekan penggunaan sumber daya, terutama air dan lahan.
“Kami ingin menciptakan sistem budidaya yang lebih ekonomis dan efektif, khususnya untuk komoditas nila dan lele yang memiliki permintaan pasar tinggi. Melalui kombinasi RAS dan IMTA, kami berharap dapat mengoptimalkan penggunaan air sekaligus meningkatkan kualitas budidaya,” ujarnya.
Dalam penelitian tersebut, tim menggabungkan dua pendekatan budidaya yang telah dikenal dalam dunia akuakultur, yakni Recirculating Aquaculture System (RAS) dan Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA).
Sistem RAS memungkinkan air budidaya digunakan kembali melalui proses penyaringan sehingga kebutuhan pergantian air dapat ditekan. Sementara itu, IMTA mengintegrasikan berbagai komponen biologis dalam satu sistem untuk menciptakan keseimbangan ekosistem dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien.
Melalui penggabungan kedua metode tersebut, tim berharap dapat menghasilkan sistem budidaya yang lebih produktif, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan oleh pembudidaya ikan air tawar.
Iqbal yang akrab disapa Nino menjelaskan bahwa sistem RAS konvensional masih memiliki sejumlah keterbatasan, terutama pada aspek filtrasi dan efisiensi pengelolaan kualitas air. Berangkat dari kondisi tersebut, tim mengembangkan Aquaspiral Nexus sebagai solusi yang mengintegrasikan filtrasi mekanis dan biologis dalam satu sistem yang saling terhubung.
Aquaspiral Nexus dirancang dengan memanfaatkan pola aliran air berbasis gravitasi yang membentuk gerakan spiral. Sistem tersebut memungkinkan sirkulasi air berlangsung lebih optimal sekaligus mengurangi kebutuhan penggunaan air baru selama proses budidaya.
“Aquaspiral Nexus merupakan sistem yang memanfaatkan aliran air berbasis gravitasi yang membentuk pola spiral sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien. Sistem ini juga dilengkapi filter yang mampu menyerap zat-zat toksik sehingga pembuangan air dapat diminimalkan,” jelasnya.
Selain mengandalkan sistem filtrasi mekanis, penelitian ini juga menerapkan konsep IMTA melalui pemanfaatan tanaman kangkung sebagai komponen biologis dalam sistem budidaya. Tanaman tersebut berfungsi membantu menyerap sisa nutrien dan senyawa tertentu yang berpotensi menurunkan kualitas air.
Dengan demikian, keberadaan kangkung tidak hanya berfungsi sebagai tanaman pendamping, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas lingkungan budidaya secara alami.
Untuk mengukur efektivitas sistem yang dikembangkan, tim INARISE akan melakukan serangkaian pengujian terhadap berbagai parameter budidaya. Pengukuran meliputi kualitas air, efisiensi penggunaan sumber daya, serta pertumbuhan ikan nila dan lele selama masa pemeliharaan.
Hasil dari pengujian tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kinerja Aquaspiral Nexus dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional yang selama ini banyak digunakan oleh pembudidaya.
Melalui penelitian tersebut, tim berharap inovasi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat nyata bagi sektor akuakultur, khususnya bagi pembudidaya skala kecil dan menengah yang menghadapi keterbatasan lahan maupun biaya operasional.
Selain membantu meningkatkan efisiensi produksi, sistem tersebut juga diharapkan mampu mempermudah proses pemantauan dan pengelolaan budidaya sehingga pembudidaya dapat memperoleh hasil yang lebih optimal.
“Kami berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat nyata bagi para pembudidaya, khususnya dalam menekan biaya produksi dan mempermudah proses monitoring budidaya. Harapannya, inovasi ini tidak hanya lolos hingga Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), tetapi juga menarik perhatian berbagai pihak agar bisa berkembang lebih luas,” pungkasnya.
Keberhasilan memperoleh pendanaan PKM 2026 menjadi langkah awal bagi tim INARISE untuk mengembangkan dan menguji inovasi tersebut secara lebih mendalam. Dengan dukungan riset yang berkelanjutan, Aquaspiral Nexus diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif teknologi budidaya yang mendukung peningkatan produktivitas akuakultur air tawar di Indonesia secara lebih efisien dan berkelanjutan. (tas)

