Surabaya (prapanca.id) – Perjalanan karier Dodiet Hendro Setiawan menjadi salah satu contoh perkembangan profesional yang dibangun melalui konsistensi, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi. Alumnus Jurusan Kimia Universitas Airlangga angkatan 1991 asal Malang itu kini menduduki sejumlah posisi strategis di PT Ajinomoto Indonesia.
Saat ini, Dodiet menjabat sebagai Director, Deputy Factory Manager Pabrik Mojokerto, sekaligus General Manager Food Product Division. Posisi tersebut menempatkannya sebagai bagian dari pengambil keputusan penting dalam industri pangan nasional.
Di balik pencapaian tersebut, Dodiet mengaku perjalanan akademik maupun profesionalnya tidak selalu berjalan mulus. Ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, nilai mata pelajaran kimianya tidak tergolong menonjol. Namun, kondisi itu justru memunculkan rasa ingin tahu yang mendorongnya memilih Jurusan Kimia saat mengikuti UMPTN.
Ia memilih bidang tersebut bukan karena merasa paling unggul, melainkan untuk membuktikan kemampuan diri melalui proses belajar yang berkelanjutan.
Selama menjalani perkuliahan di UNAIR, Dodiet juga merasa dirinya bukan mahasiswa dengan prestasi akademik yang istimewa. Meski demikian, ia menilai lingkungan kampus memberikan bekal yang lebih luas daripada sekadar nilai akademik.
Menurutnya, pengalaman selama kuliah membentuk pola pikir, kemampuan analisis, serta cara menghadapi persoalan secara sistematis. Bekal tersebut kemudian menjadi modal penting saat memasuki dunia kerja.
Dodiet menyelesaikan studinya pada April 1996. Enam bulan setelah lulus, ia memulai karier di PT Ajinomoto Indonesia, Mojokerto, pada bagian Flexible Packaging Department.
Dari posisi awal tersebut, ia mulai memahami ritme kerja industri manufaktur, disiplin operasional, hingga proses produksi di lingkungan pabrik. Pengalaman di tahap awal karier itu menjadi dasar penting dalam memahami sistem kerja industri pangan secara menyeluruh.
Setelah sekitar dua tahun bekerja, Dodiet mendapat promosi sebagai Section Manager. Kariernya terus berkembang seiring bertambahnya tanggung jawab yang diemban perusahaan.
Ia kemudian menjalankan peran ganda di bagian Commercial Plant Research and Development (R&D) sambil tetap menangani Flexible Packaging. Pengalaman tersebut memperluas pemahamannya, tidak hanya dalam proses produksi, tetapi juga pada pengembangan inovasi berbasis riset.
Pada 2010, Dodiet dipercaya menduduki posisi Department Manager. Dalam jabatan tersebut, tanggung jawabnya mencakup pengelolaan tim, pengawasan proses kerja, hingga pengambilan keputusan strategis di lingkungan perusahaan.
Empat tahun kemudian, ia berpindah ke divisi Production Planning & Control (PPC). Perpindahan tersebut memperkuat kemampuannya dalam bidang efisiensi operasional dan perencanaan produksi.
Perjalanan kariernya kembali berkembang pada 2019 ketika dipercaya bertugas di kantor pusat Jakarta sebagai Department Manager Strategic Sourcing & Procurement. Jabatan itu menuntut kemampuan dalam mengelola rantai pasok, strategi pengadaan, serta hubungan eksternal perusahaan.
Tonggak penting berikutnya terjadi pada 2022 saat Dodiet ditunjuk menjadi General Manager Production Plan & Inventory Control Division di Mojokerto. Dalam posisi tersebut, ia memimpin tiga departemen sekaligus, yakni PPC, Warehouses, dan Export-Import.
Memasuki 2025, kariernya mencapai tahap yang lebih tinggi ketika dipercaya menjadi General Manager Food Product Division. Ia bertanggung jawab terhadap pengelolaan sejumlah produk populer Ajinomoto, seperti Masako, Sajiku, dan Mayumi.
Selain itu, perusahaan juga mempercayainya menjabat sebagai Director sekaligus Deputy Factory Manager di pabrik Mojokerto.
Bagi Dodiet, ilmu kimia tetap memiliki relevansi besar dalam dunia industri pangan, khususnya dalam memahami proses produksi seperti monosodium glutamate (MSG). Pengetahuan mengenai Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biokimia, hingga Analisis Kimia dinilai masih menjadi fondasi penting dalam pekerjaannya.
Ia mencontohkan konsep titrasi asam-basa sebagai salah satu dasar ilmu yang bukan hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga melalui pemahaman proses dan logika ilmiah di baliknya.
Menurutnya, pola pikir analitis yang dibentuk selama menempuh pendidikan menjadi bekal utama dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berkembang.
Tidak hanya pengalaman akademik, aktivitas organisasi selama kuliah juga memberikan pengaruh terhadap perjalanan profesionalnya. Dodiet aktif di Himpunan Mahasiswa Kimia UNAIR dan pernah menjabat sebagai ketua organisasi tersebut.
Ia juga terlibat dalam Senat Mahasiswa FMIPA, Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI), dan UKM Penalaran. Keterlibatan organisasi itu dinilai membantu membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta kerja sama tim yang kini dibutuhkan dalam posisi strategisnya di perusahaan.
Dalam dunia profesional, Dodiet menekankan pentingnya sikap proaktif, termasuk keberanian mengambil inisiatif dan menghadapi risiko yang telah diperhitungkan. Ia juga mengingatkan pentingnya belajar secara berkelanjutan, termasuk dalam penguasaan bahasa asing dan pengembangan keterampilan baru.
Di tengah pencapaian kariernya, Dodiet tetap melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup yang telah dijalani. Ia mengaku, jika memiliki kesempatan kembali ke masa kuliah, dirinya ingin belajar lebih serius dan lebih sabar dalam menjalani proses.
Perjalanan karier dari level operator hingga menduduki posisi direktur tersebut menjadi gambaran mengenai pentingnya konsistensi, ketekunan, dan kesiapan untuk terus berkembang di dunia profesional. (tas)

