Surabaya (prapanca.id) – Penggunaan makeup pada anak-anak kini semakin sering terlihat, mulai dari sekadar bermain, kebutuhan acara, hingga konten media sosial. Namun, di balik tren tersebut, para ahli mengingatkan adanya sejumlah risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan.
Anak-anak cenderung tertarik pada warna-warna cerah dan kemasan kosmetik yang menarik. Tak sedikit orang tua yang menganggap penggunaan makeup sesekali tidak berbahaya. Padahal, kondisi kulit anak yang masih berkembang membuatnya lebih sensitif terhadap paparan bahan kimia.
Kulit anak memiliki lapisan yang lebih tipis dibandingkan orang dewasa, sehingga lebih mudah menyerap zat dari luar. Hal ini meningkatkan risiko iritasi, kemerahan, hingga infeksi kulit.
Selain itu, kandungan pewangi dan bahan tambahan dalam kosmetik juga berpotensi memicu reaksi alergi, seperti gatal, bengkak, atau rasa panas pada kulit.
Penggunaan makeup yang tidak dibersihkan dengan baik dapat menyumbat pori-pori. Kondisi ini berisiko menyebabkan jerawat dan peradangan, bahkan pada usia yang masih sangat muda.
Jika terjadi terus-menerus, iritasi dapat membuat kulit menjadi kering, kusam, dan rentan mengalami kerusakan jangka panjang. Dalam beberapa kasus, regenerasi kulit juga bisa terganggu.
Sejumlah produk kosmetik, terutama yang tidak diformulasikan khusus untuk anak, dapat mengandung bahan berbahaya seperti formaldehida, toluena, dan phthalate. Zat-zat ini tidak hanya berdampak pada kulit, tetapi juga berpotensi masuk ke dalam tubuh.
Paparan bahan kimia tersebut dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan, termasuk risiko gangguan sistem tubuh.
Selain dampak fisik, penggunaan makeup sejak dini juga dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak. Ketergantungan pada makeup untuk meningkatkan rasa percaya diri berpotensi membentuk citra diri yang kurang sehat.
Anak bisa merasa perlu tampil “sempurna” sejak dini, yang pada akhirnya berdampak pada kepercayaan diri di masa depan.
Orang tua disarankan untuk membatasi penggunaan makeup pada anak dan hanya menggunakannya dalam kondisi tertentu. Jika diperlukan, pilih produk yang memang diformulasikan khusus untuk anak dan telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Lebih dari itu, penting bagi orang tua untuk menanamkan kebiasaan merawat kulit secara alami. Membersihkan wajah, menjaga kebersihan tubuh, dan pola hidup sehat sudah cukup untuk menjaga kesehatan kulit anak tanpa perlu ketergantungan pada kosmetik.
Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat membantu anak tetap sehat sekaligus membangun kepercayaan diri yang positif tanpa bergantung pada penampilan semata. (ant)

